Profil Presiden Baru Korsel Lee Jae Myung, Pernah Nyaris Terbunuh
CNN Indonesia
Rabu, 04 Jun 2025 09:32 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin Partai Demokratik Korea Lee Jae Myung terpilih sebagai presiden baru Korea Selatan usai memenangkan pemilihan presiden (pilpres), Selasa (3/6).
Lee berhasil mengamankan 49,92 persen suara, melampaui lawannya Kim Moon Soo dari partai konservatif, Partai Kekuatan Rakyat (PPP). Kim telah mengakui kekalahannya dalam pilpres ini.
Siapa Lee Jae Myung?
Lee Jae Myung adalah pemimpin partai liberal yang pernah bertarung dalam pilpres Korsel 2022 melawan eks Presiden yang dimakzulkan Yoon Suk Yeol. Namun, Lee kalah dari Yoon dan karier politiknya diterpa berbagai rintangan.
Sebelum deklarasi darurat militer sepihak Yoon pada 3 Desember 2024, Lee menghadapi berbagai kasus hukum hingga skandal. Beberapa di antaranya yakni investigasi dugaan korupsi dan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.
Lee merupakan mantan pekerja pabrik yang dahulu hidup dalam kemiskinan. Setelah lulus dari sekolah dasar, ia bekerja serabutan di berbagai pabrik di Seongnam, dekat ibu kota Seoul, karena keluarganya tak mampu membiayai sekolahnya.
Ketika bekerja di sebuah pabrik yang memproduksi sarung tangan bisbol, lengan kirinya tergencet oleh mesin pres. Akibatnya, lengannya cacat permanen dan ia harus hidup dengan kelainan bentuk tangan.
Selain mengalami kecelakaan kerja, Lee juga mengalami perundungan di pabrik. Ia dua kali mencoba bunuh diri karena putus asa, namun gagal.
Lee akhirnya bangkit dan berusaha melanjutkan hidup dengan sekolah, termasuk mendaftar ke Universitas Chung-Ang Seoul dengan beasiswa penuh. Ia berhasil lulus dan menjadi pengacara pembela hak asasi manusia (HAM), demikian dilansir dari Associated Press (AP).
Pada 1992, ia menikahi istrinya Kim Hye Kyung dan memiliki dua orang anak.
Setelah nyaris dua dekade menjadi pengacara HAM, Lee pun memutuskan untuk terjun ke dunia politik pada 2005 dengan bergabung dengan Partai Uri yang beraliran sosial-liberal.
Rekam pendidikannya yang buruk membuat Lee dihujani cemoohan oleh anggota kelas atas Korea Selatan. Namun, ia memperoleh banyak dukungan dari kelas pekerja dan mereka yang merasa kehilangan haknya oleh elite politik.
Pada 2010, Lee terpilih sebagai wali kota Seongnam. Ia meluncurkan serangkaian kebijakan kesejahteraan gratis selama masa jabatannya yang membuat dia lanjut menjadi gubernur Provinsi Gyeonggi pada 2018.
Lee dibanjiri pujian karena tanggapannya terhadap pandemi Covid-19. Ia berselisih dengan pemerintah pusat karena mendesak agar seluruh penduduk provinsinya menerima bantuan.
Dilansir dari BBC, masa inilah yang membawa Lee menjadi kandidat presiden terakhir dari Partai Demokratik Korea. Namun, ia kalah dengan selisih 0,76 poin. Tak sampai setahun kemudian, Lee pun didapuk sebagai pemimpin partai pada Agustus 2022.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Kasus Hukum
Sebagai pemimpin partai, makin banyak pihak yang berusaha menjegal Lee. Berbagai skandal dan kontroversi muncul, termasuk insiden mengemudi dalam keadaan mabuk pada 2004, perselisihan dengan kerabat pada akhir tahun 2010, dan tuduhan perselingkuhan pada 2018.
Sebelum menjadi pemimpin Partai Demokratik, Lee sendiri dikenal sebagai sosok yang vokal. Ia pernah mengkritik eks Presiden Park Geun Hye pada 2016, yang tak lama kemudian dicopot dari jabatan karena skandal korupsi.
Lee juga kerap menjelek-jelekkan kaum konservatif Korsel sebagai "konservatif palsu" yang tamak. Ia juga mengecam sistem pertahanan rudal Amerika Serikat di Korea Selatan sebagai sumber ketegangan.
Beberapa tahun terakhir ini pun menjadi masa-masa berat bagi karier politik Lee. Serangkaian tuduhan penting menerpa dia, salah satunya kasus dugaan korupsi, suap, dan pelanggaran kepercayaan terkait dengan proyek pengembangan lahan pada 2023.
Pertarungan hukum lain yang juga krusial melibatkan tuduhan bahwa Lee membuat pernyataan palsu secara sadar selama debat kampanye presiden pada 2022.
Dalam debat itu, Lee membantah mengenal secara pribadi Kim Moon Ki, tokoh kunci dalam kasus dugaan korupsi pengembangan lahan. Jaksa menyebut klaim Lee bohong sehingga ia melanggar Undang-Undang Pemilihan Pejabat Publik.
Pada November 2024, Lee pun dinyatakan bersalah atas tuduhan pernyataan palsu dan dijatuhi hukuman penjara satu tahun yang ditangguhkan.
Pada Maret, pengadilan banding membebaskan Lee dari tuduhan tersebut. Namun, putusan itu dibatalkan oleh Mahkamah Agung Korea Selatan. Kasus ini masih berjalan, namun tertunda karena pilpres saat ini.
Ambisi politik Lee sendiri tak cuma menyeretnya ke kasus hukum, tetapi juga membahayakan nyawa dia. Pada Januari 2024, saat menjawab pertanyaan wartawan di luar lokasi pembangunan bandara di Busan, ia pernah nyaris terbunuh.
Lee ditikam di leher oleh seorang pria yang mendekatinya dengan berpura-pura meminta tanda tangan.
Insiden penikaman itu membuat Lee harus menjalani pembedahan besar karena cedera pada vena jugularis.
Peristiwa ini juga mendorong Lee menjadi lebih waspada, yaitu ia berkampanye di balik kaca antipeluru dalam pilpres kali ini, serta mengenakan rompi antipeluru dan dikelilingi oleh agen yang membawa tas balistik.
Penyerang, yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, telah menyatakan bahwa ia ingin Lee tidak pernah menjadi presiden Korea Selatan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin Partai Demokratik Korea Lee Jae Myung terpilih sebagai presiden baru Korea Selatan usai memenangkan pemilihan presiden (pilpres), Selasa (3/6).
Lee berhasil mengamankan 49,92 persen suara, melampaui lawannya Kim Moon Soo dari partai konservatif, Partai Kekuatan Rakyat (PPP). Kim telah mengakui kekalahannya dalam pilpres ini.
Siapa Lee Jae Myung?
Lee Jae Myung adalah pemimpin partai liberal yang pernah bertarung dalam pilpres Korsel 2022 melawan eks Presiden yang dimakzulkan Yoon Suk Yeol. Namun, Lee kalah dari Yoon dan karier politiknya diterpa berbagai rintangan.
Sebelum deklarasi darurat militer sepihak Yoon pada 3 Desember 2024, Lee menghadapi berbagai kasus hukum hingga skandal. Beberapa di antaranya yakni investigasi dugaan korupsi dan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.
Lee merupakan mantan pekerja pabrik yang dahulu hidup dalam kemiskinan. Setelah lulus dari sekolah dasar, ia bekerja serabutan di berbagai pabrik di Seongnam, dekat ibu kota Seoul, karena keluarganya tak mampu membiayai sekolahnya.
Ketika bekerja di sebuah pabrik yang memproduksi sarung tangan bisbol, lengan kirinya tergencet oleh mesin pres. Akibatnya, lengannya cacat permanen dan ia harus hidup dengan kelainan bentuk tangan.
Selain mengalami kecelakaan kerja, Lee juga mengalami perundungan di pabrik. Ia dua kali mencoba bunuh diri karena putus asa, namun gagal.
Lee akhirnya bangkit dan berusaha melanjutkan hidup dengan sekolah, termasuk mendaftar ke Universitas Chung-Ang Seoul dengan beasiswa penuh. Ia berhasil lulus dan menjadi pengacara pembela hak asasi manusia (HAM), demikian dilansir dari Associated Press (AP).
Pada 1992, ia menikahi istrinya Kim Hye Kyung dan memiliki dua orang anak.
Setelah nyaris dua dekade menjadi pengacara HAM, Lee pun memutuskan untuk terjun ke dunia politik pada 2005 dengan bergabung dengan Partai Uri yang beraliran sosial-liberal.
Rekam pendidikannya yang buruk membuat Lee dihujani cemoohan oleh anggota kelas atas Korea Selatan. Namun, ia memperoleh banyak dukungan dari kelas pekerja dan mereka yang merasa kehilangan haknya oleh elite politik.
Pada 2010, Lee terpilih sebagai wali kota Seongnam. Ia meluncurkan serangkaian kebijakan kesejahteraan gratis selama masa jabatannya yang membuat dia lanjut menjadi gubernur Provinsi Gyeonggi pada 2018.
Lee dibanjiri pujian karena tanggapannya terhadap pandemi Covid-19. Ia berselisih dengan pemerintah pusat karena mendesak agar seluruh penduduk provinsinya menerima bantuan.
Dilansir dari BBC, masa inilah yang membawa Lee menjadi kandidat presiden terakhir dari Partai Demokratik Korea. Namun, ia kalah dengan selisih 0,76 poin. Tak sampai setahun kemudian, Lee pun didapuk sebagai pemimpin partai pada Agustus 2022.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sosok Vokal Diterpa Kasus Hukum hingga Nyaris Terbunuh
Lee Jae Myung pernah nyaris terbunuh karena tikaman di leher kirinya. (via REUTERS/YONHAP)
Kasus Hukum
Sebagai pemimpin partai, makin banyak pihak yang berusaha menjegal Lee. Berbagai skandal dan kontroversi muncul, termasuk insiden mengemudi dalam keadaan mabuk pada 2004, perselisihan dengan kerabat pada akhir tahun 2010, dan tuduhan perselingkuhan pada 2018.
Sebelum menjadi pemimpin Partai Demokratik, Lee sendiri dikenal sebagai sosok yang vokal. Ia pernah mengkritik eks Presiden Park Geun Hye pada 2016, yang tak lama kemudian dicopot dari jabatan karena skandal korupsi.
Lee juga kerap menjelek-jelekkan kaum konservatif Korsel sebagai "konservatif palsu" yang tamak. Ia juga mengecam sistem pertahanan rudal Amerika Serikat di Korea Selatan sebagai sumber ketegangan.
Beberapa tahun terakhir ini pun menjadi masa-masa berat bagi karier politik Lee. Serangkaian tuduhan penting menerpa dia, salah satunya kasus dugaan korupsi, suap, dan pelanggaran kepercayaan terkait dengan proyek pengembangan lahan pada 2023.
Pertarungan hukum lain yang juga krusial melibatkan tuduhan bahwa Lee membuat pernyataan palsu secara sadar selama debat kampanye presiden pada 2022.
Dalam debat itu, Lee membantah mengenal secara pribadi Kim Moon Ki, tokoh kunci dalam kasus dugaan korupsi pengembangan lahan. Jaksa menyebut klaim Lee bohong sehingga ia melanggar Undang-Undang Pemilihan Pejabat Publik.
Pada November 2024, Lee pun dinyatakan bersalah atas tuduhan pernyataan palsu dan dijatuhi hukuman penjara satu tahun yang ditangguhkan.
Pada Maret, pengadilan banding membebaskan Lee dari tuduhan tersebut. Namun, putusan itu dibatalkan oleh Mahkamah Agung Korea Selatan. Kasus ini masih berjalan, namun tertunda karena pilpres saat ini.
Ambisi politik Lee sendiri tak cuma menyeretnya ke kasus hukum, tetapi juga membahayakan nyawa dia. Pada Januari 2024, saat menjawab pertanyaan wartawan di luar lokasi pembangunan bandara di Busan, ia pernah nyaris terbunuh.
Lee ditikam di leher oleh seorang pria yang mendekatinya dengan berpura-pura meminta tanda tangan.
Insiden penikaman itu membuat Lee harus menjalani pembedahan besar karena cedera pada vena jugularis.
Peristiwa ini juga mendorong Lee menjadi lebih waspada, yaitu ia berkampanye di balik kaca antipeluru dalam pilpres kali ini, serta mengenakan rompi antipeluru dan dikelilingi oleh agen yang membawa tas balistik.
Penyerang, yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, telah menyatakan bahwa ia ingin Lee tidak pernah menjadi presiden Korea Selatan.