Jakarta, CNN Indonesia -- Dinas intelijen Israel Mossad memainkan peran sangat penting dalam penyerangan ke Iran.
Lewat aksi mata-mata dan penyusupan, mereka berhasil mengawali perang terbuka lewat operasi Rising Lion.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dinas intelijen ini juga dikenal dengan aksi pembunuhannya yang menyasar para pemimpin Palestina hingga Iran.
Mereka akan menggunakan racun, penembak jitu, hingga bom untuk melenyapkan para pemimpin Palestina atau para pejuang Palestina.
Pada April 2018 silam misalnya, ilmuwan Palestina yang sedang studi di Malaysia, Fadi Al Batsh, ditembak di Kuala Lumpur. Ahli elektro itu ditembak dua orang tak dikenal saat berjalan menuju ke Masjid Setepak di sana.
Al Jazeera membuat laporan cukup lengkap perihal kasus ini. Menurut Al Jazeera, Al Batsh sudah menjadi target operasi dinas rahasia Israel sejak lama. Al Batsh spesialis power system ini masuk daftar Mossad dengan kategori "loyalis" dan seorang ilmuwan Palestina yang berkontribusi penting dalam forum internasional bidang energi.
Menurut wartawan investigasi Israel Ronen Bergman, yang menulis buku "Rise and Kill First" pembunuhan Fadi merupakan tangkapan besar yang sudah masuk dalam target Mossad.
"Pembunuhan dilakukan menggunakan motor, yang sering digunakan Mossad kala memburu target. Pembunuhan profesional dilakukan jauh dari Israel jadi poin penting," katanya.
Dan pembunuhan Mossad yang tak kalah kejam saat mengebom pemimpin Hamas Ismael Haniyeh di Iran bersama pengawal pribadinya Juli 2024 silam. Haniyah berada di Teheran, untuk menghadiri pelantikan Presiden Iran Masoud Pezeskhian. Saat kembali ke wisma penginapan, bom tiba-tiba meledak. Diduga bom ditanam dan diledakan dari jarak jauh.
Begitu pula dengan kematian pemimpin pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat yang disebut didalangi Mossad. Sebab, Arafat sudah lama menjadi target Israel untuk dilenyapkan. Hingga kematiannya pada 2004 silam, banyak yang diyakini pemimpin Palestina paling kharismatik itu tewas diracun.
Al Jazeera pernah menurunkan laporan bagaimana dinas rahasia yang didirikan 1949 itu mengindentifikasi target hingga mengeksekusi. Korban misalnya, kadang-kadang diidentifikasi oleh dinas dalam negeri dan militer Israel lainnya.
Misalnya, dalam kasus Al Batsh dapat diidentifikasi sebagai target melalui pengumpulan umum informasi intelijen melalui unit-unit di dalam organisasi militer dan intelijen Israel yang mengikuti Hamas.
Al Batsh juga dapat diidentifikasi melalui operasi intelijen Israel lainnya dan jaringan mata-mata Israel di seluruh dunia.
Sumber-sumber Al Jazeera mengatakan bahwa komunikasi Hamas antara Gaza, Istanbul (Turki) dan Beirut (Lebanon) diawasi ketat oleh jaringan intelijen Israel. Dengan demikian, pemilihan awal Al Batsh kemungkinan besar dilakukan melalui saluran-saluran ini.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Proses Pembunuhan
Ilustrasi. (stockphoto/D-Keine)
Untuk mengeksekusi target, Mossad akan mengevaluasi intelijen yang tersedia untuk memutuskan apakah dia harus dibunuh, apa manfaat membunuhnya dan cara terbaik untuk melakukannya.
Setelah unit khusus Mossad menyelesaikan berkasnya pada target, mereka menyampaikan temuannya kepada pimpinan Komite Layanan Intelijen, yang terdiri atas para pimpinan organisasi intelijen Israel dan dikenal dengan akronim Ibrani, VARASH, atau Vaadan Rashei Ha-sherutim.
Setelah persetujuan diperoleh, operasi kemudian dikembalikan ke Mossad untuk perencanaan dan pelaksanaan. Rencana itu dapat memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, tergantung pada target.
Unit Caesarea
Caesarea adalah cabang operasi penyamaran dalam Mossad yang bertugas menanam dan menjalankan mata-mata terutama di dalam negara-negara Arab dan di seluruh dunia. Unit yang didirikan pada awal tahun 1970-an ini punya spesialis membunuh.
Salah satu pendirinya adalah mata-mata Israel yang terkenal, Mike Harari.
Caesarea memanfaatkan jaringan mata-matanya yang luas di negara-negara Arab dan Timur Tengah yang lebih luas untuk mengumpulkan informasi dan melakukan pengawasan terhadap target saat ini dan masa depan.
Di Caesarea, ada kelompok pembunuh profesional yang dikenal dalam bahasa Ibrani sebagai Kidon ("bayonet"). Anggota Kidon sering kali diambil dari cabang militer Israel termasuk angkatan darat atau pasukan khusus.
Mossad tidak hanya menargetkan pemimpin dan agen Palestina tetapi juga pemimpin dan agen Suriah, Lebanon, Iran, dan Eropa. Dari unit inilah mereka menyasar target, terutama para pejuang Palestina untuk dilenyapkan.