Marak Disinformasi Dorong Kekerasan Ekstrem di Pakistan
CNN Indonesia
Minggu, 20 Jul 2025 04:55 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Foto: REUTERS/FLORENCE LO
Jakarta, CNN Indonesia --
Disinformasi belakangan kian marak di Pakistanlantaran lanskap sosial-politik yang terus diwarnai keterputusan antara negara dan masyarakat, polarisasi yang mendalam, serta ketidakpercayaan yang meningkat.
Mengutip dari European Times, disinformasi di Pakistan bukan hanya menyesatkan, tapi telah berubah menjadi senjata yang memelintir persepsi publik, memanipulasi kebenaran, dan dalam bentuknya yang paling destruktif, mendorong ekstremisme.
Fenomena ini diperparah penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menciptakan deepfake - video atau audio buatan yang tampak nyata namun palsu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknologi ini telah menimbulkan kekhawatiran global akan datangnya "apokalips informasi," sebuah era di mana fakta dan kebohongan nyaris tak bisa dibedakan. Bagi Pakistan, masa depan distopik itu mungkin sudah menjadi kenyataan.
Disinformasi bukan hal baru di Pakistan. Negara dengan mosaik etnis, agama, dan politik yang kompleks ini telah lama rentan terhadap manipulasi media. Intoleransi politik sering kali memuncak dalam kekerasan berdarah.
Sejumlah kasus tragis mencerminkan hal ini, mulai dari Mashal Khan, mahasiswa yang dibunuh massa karena tuduhan palsu penistaan agama pada 2017, hingga Junaid Hafeez yang dipenjara bertahun-tahun, serta pengacaranya, Rashid Rehman, yang ditembak mati pada 2014.
Gubernur Salman Taseer pun dibunuh pada 2011 karena membela Asia Bibi, perempuan Kristen yang dituduh menista agama. Kasus terbaru, warga negara Sri Lanka, Priyantha Diyawadanage, tewas secara brutal setelah dituduh hal serupa.
Dengan semakin canggihnya teknologi, kelompok ekstremis tak lagi bergantung pada propaganda kasar. Mereka kini memanfaatkan video deepfake, konten buatan AI, dan persona palsu untuk menyebarkan pesan radikal secara presisi seperti menargetkan individu rentan, terutama anak muda, melalui narasi identitas, keluhan, dan panggilan spiritual yang menggoda.
Selama pemilu Pakistan 2024, partai PTI yang dipimpin mantan PM Imran Khan bahkan menggunakan AI untuk menyampaikan pidato Khan dari dalam penjara.
Di sisi lain, video palsu yang menampilkan tokoh PTI seperti Nadeem Haider Panjutha dan Muhammad Basharat Raja, seolah mengundurkan diri atau meminta pendukung tidak memilih, tersebar luas dan sempat membingungkan publik.
Bahkan, partai politik Pakistan kini memanfaatkan pembawa berita virtual hasil AI untuk menyampaikan kampanye mereka, membuat batas antara jurnalisme dan propaganda makin kabur.
Lanjut ke sebelah...
Media sosial memainkan peran kunci. Algoritma menciptakan ruang gema yang memperkuat bias, menjauhkan pengguna dari sudut pandang berbeda. Di negara dengan lebih dari 75 juta pengguna media sosial dan literasi digital yang rendah, informasi emosional lebih cepat menyebar dibanding fakta.
Masyarakat Pakistan, yang cenderung mencari afirmasi ketimbang kebenaran, menjadi sasaran empuk bagi kampanye disinformasi yang dirancang untuk meneguhkan prasangka dan memperkeras polarisasi. Bahkan, lembaga pemeriksa fakta pun dianggap memiliki afiliasi politik, sehingga kepercayaan terhadap informasi objektif melemah.
Kasus Muhammad Qasim dari Lahore menunjukkan dimensi baru yang mengkhawatirkan. Lewat teknik deepfake, ia mengklaim mendapat wahyu ilahi dan menyebarkan video yang menggambarkan dirinya sebagai Imam Mahdi yang dijanjikan.
Video tersebut bahkan menampilkan deepfake Barack Obama yang seolah mendukung klaim Qasim, serta rekaman suara palsu ulama terkenal seperti Mufti Menk dan Zakir Naik.
Narasi apokaliptik dan peran "Islam murni" yang diproyeksikan Pakistan menjadi bagian dari kampanye teologis yang memikat dan berbahaya, terutama bagi generasi muda yang teralienasi.
Dalam lanskap seperti ini, perang melawan ekstremisme kekerasan tak lagi sekadar pertempuran fisik, tapi juga pertarungan narasi dan persepsi. Di Pakistan, disinformasi bukan hanya membuka jalan menuju radikalisasi, tapi juga memperkuat keyakinan radikal yang sudah ada.
Dalam ekosistem yang terbiasa dengan rumor, polarisasi menjadi mata uang sosial utama, dan fakta sering dikalahkan oleh emosi serta afiliasi ideologis.
Disinformasi di Pakistan bukan lagi pengecualian, melainkan gejala dari krisis persepsi kolektif: kebenaran menjadi relatif, dan kepalsuan menjadi norma melalui repetisi.
Pakistan kini berada di persimpangan antara keterpurukan yang lebih dalam atau upaya kolektif membangun masyarakat digital yang tangguh, inklusif, dan melek informasi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Disinformasi belakangan kian marak di Pakistanlantaran lanskap sosial-politik yang terus diwarnai keterputusan antara negara dan masyarakat, polarisasi yang mendalam, serta ketidakpercayaan yang meningkat.
Mengutip dari European Times, disinformasi di Pakistan bukan hanya menyesatkan, tapi telah berubah menjadi senjata yang memelintir persepsi publik, memanipulasi kebenaran, dan dalam bentuknya yang paling destruktif, mendorong ekstremisme.
Fenomena ini diperparah penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menciptakan deepfake - video atau audio buatan yang tampak nyata namun palsu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknologi ini telah menimbulkan kekhawatiran global akan datangnya "apokalips informasi," sebuah era di mana fakta dan kebohongan nyaris tak bisa dibedakan. Bagi Pakistan, masa depan distopik itu mungkin sudah menjadi kenyataan.
Disinformasi bukan hal baru di Pakistan. Negara dengan mosaik etnis, agama, dan politik yang kompleks ini telah lama rentan terhadap manipulasi media. Intoleransi politik sering kali memuncak dalam kekerasan berdarah.
Sejumlah kasus tragis mencerminkan hal ini, mulai dari Mashal Khan, mahasiswa yang dibunuh massa karena tuduhan palsu penistaan agama pada 2017, hingga Junaid Hafeez yang dipenjara bertahun-tahun, serta pengacaranya, Rashid Rehman, yang ditembak mati pada 2014.
Gubernur Salman Taseer pun dibunuh pada 2011 karena membela Asia Bibi, perempuan Kristen yang dituduh menista agama. Kasus terbaru, warga negara Sri Lanka, Priyantha Diyawadanage, tewas secara brutal setelah dituduh hal serupa.
Dengan semakin canggihnya teknologi, kelompok ekstremis tak lagi bergantung pada propaganda kasar. Mereka kini memanfaatkan video deepfake, konten buatan AI, dan persona palsu untuk menyebarkan pesan radikal secara presisi seperti menargetkan individu rentan, terutama anak muda, melalui narasi identitas, keluhan, dan panggilan spiritual yang menggoda.
Selama pemilu Pakistan 2024, partai PTI yang dipimpin mantan PM Imran Khan bahkan menggunakan AI untuk menyampaikan pidato Khan dari dalam penjara.
Di sisi lain, video palsu yang menampilkan tokoh PTI seperti Nadeem Haider Panjutha dan Muhammad Basharat Raja, seolah mengundurkan diri atau meminta pendukung tidak memilih, tersebar luas dan sempat membingungkan publik.
Bahkan, partai politik Pakistan kini memanfaatkan pembawa berita virtual hasil AI untuk menyampaikan kampanye mereka, membuat batas antara jurnalisme dan propaganda makin kabur.
Lanjut ke sebelah...
Disinformasi Bermuatan Agama dan Mistik di Pakistan
Ilustrasi. Foto: REUTERS/QURATULAIN ASIM
Media sosial memainkan peran kunci. Algoritma menciptakan ruang gema yang memperkuat bias, menjauhkan pengguna dari sudut pandang berbeda. Di negara dengan lebih dari 75 juta pengguna media sosial dan literasi digital yang rendah, informasi emosional lebih cepat menyebar dibanding fakta.
Masyarakat Pakistan, yang cenderung mencari afirmasi ketimbang kebenaran, menjadi sasaran empuk bagi kampanye disinformasi yang dirancang untuk meneguhkan prasangka dan memperkeras polarisasi. Bahkan, lembaga pemeriksa fakta pun dianggap memiliki afiliasi politik, sehingga kepercayaan terhadap informasi objektif melemah.
Kasus Muhammad Qasim dari Lahore menunjukkan dimensi baru yang mengkhawatirkan. Lewat teknik deepfake, ia mengklaim mendapat wahyu ilahi dan menyebarkan video yang menggambarkan dirinya sebagai Imam Mahdi yang dijanjikan.
Video tersebut bahkan menampilkan deepfake Barack Obama yang seolah mendukung klaim Qasim, serta rekaman suara palsu ulama terkenal seperti Mufti Menk dan Zakir Naik.
Narasi apokaliptik dan peran "Islam murni" yang diproyeksikan Pakistan menjadi bagian dari kampanye teologis yang memikat dan berbahaya, terutama bagi generasi muda yang teralienasi.
Dalam lanskap seperti ini, perang melawan ekstremisme kekerasan tak lagi sekadar pertempuran fisik, tapi juga pertarungan narasi dan persepsi. Di Pakistan, disinformasi bukan hanya membuka jalan menuju radikalisasi, tapi juga memperkuat keyakinan radikal yang sudah ada.
Dalam ekosistem yang terbiasa dengan rumor, polarisasi menjadi mata uang sosial utama, dan fakta sering dikalahkan oleh emosi serta afiliasi ideologis.
Disinformasi di Pakistan bukan lagi pengecualian, melainkan gejala dari krisis persepsi kolektif: kebenaran menjadi relatif, dan kepalsuan menjadi norma melalui repetisi.
Pakistan kini berada di persimpangan antara keterpurukan yang lebih dalam atau upaya kolektif membangun masyarakat digital yang tangguh, inklusif, dan melek informasi.