Setelah kalah perang dalam Perang Dunia II tahun 1945, Jepang awalnya menolak menandatangani Deklarasi Potsdam, yang menuntut penyerahan tanpa syarat angkatan bersenjata kepada Sekutu.
Namun Kaisar Hirohito dan Perdana Menteri Suzuki mendesak penandatanganan perjanjian tersebut, langkah yang tidak diterima dengan baik oleh Garda Kekaisaran, yang khawatir sistem kekaisaran akan dihapuskan setelah penandatanganan.
Maka dipimpin oleh Mayor Kenji Hatanaka, sebuah upaya kudeta dilakukan pada 14 Agustus, hanya beberapa jam sebelum kaisar mengumumkan penyerahan Jepang kepada sekutu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Hirohito merekam pidatonya kepada rakyat malam itu, sekelompok perwira yang dipimpin Hatanaka menyerbu istana dan memutus komunikasi dengan dunia luar, dengan harapan dapat menghentikan Hirohito menyampaikan pengumuman tersebut.
Hatanaka dan anak buahnya berharap dapat mempertahankan sistem kekaisaran dan membentuk pemerintahan baru dengan menteri militer sebagai pemimpinnya. Namun, karena rekaman kaisar disembunyikan dengan aman, upaya mereka sia-sia. Pukul 11.00, sesaat sebelum pidato kaisar disiarkan, Hatanaka menembak kepalanya sendiri. Banyak pelaku lainnya juga bunuh diri.
Setelah menjadi presiden Kenya pada tahun 1978, Daniel Arap Moi membuat beberapa janji demi kesejahteraan warganya. Salah satunya ia akan memberantas korupsi, perang suky dan penyakit-penyakit lain yang sebelumnya telah menjangkiti bangsa Afrika itu.
Ia memenangkan kepercayaan rakyat dengan membawa keadilan yang cepat kepada mereka yang berada di posisi-posisi tinggi yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan korup.
Namun, di balik itu, Moi adalah seorang presiden yang dengan keras menjaga kepemimpinannya, cepat mengakali dan menggagalkan setiap oposisi politik yang datang melawannya selama tahun-tahun awal kepresidenannya.
Agustus 1982 Moi ada upaya mendongkel kekuasaannya, upaya kudeta pertama sejak negara itu merdeka. Pada pukul 02.00 dini hari tanggal 1 Agustus, sekelompok perwira angkatan udara Kenya melancarkan serangan terhadap presiden. Mereka merebut bandara internasional, tiga pangkalan udara, kantor pos, dan stasiun radio yang sangat penting.
Melalui siaran udara, mereka memproklamasikan pembentukan Dewan Penebusan Rakyat, sementara pasukan berbaris di jalan-jalan Nairobi untuk mendorong rakyat memberontak. Meskipun banyak warga sipil ragu-ragu, cukup banyak mahasiswa yang mendukung kudeta tersebut.
Sialnya, banyak pasukan pemberontak yang mabuk dan menjarah, bukan berusaha menangkap presiden.Jet-jet tempur yang seharusnya digunakan dalam upaya kudeta disabotase oleh pasukan yang setia kepada presiden.
Setelah pertempuran sengit di kota, stasiun radio direbut kembali oleh pemerintah, Moi kembali ke kota, dan para pemberontak dikalahkan. Kudeta gagal ini menelan korban nyawa 600-1.800 orang, sebagai efek para pemberontak yang mencuri mobil, memperkosa perempuan, dan menjarah.
(imf/bac)