Begini Cara Licik Israel Dukung Kelompok Bersenjata Anti-Hamas
CNN Indonesia
Senin, 08 Des 2025 13:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jakarta, CNN Indonesia --
Pimpinan geng bersenjata anti-Hamas, Yasser Abu Shahab, tewas di Jalur Gaza saat menengahi pertikaian keluarga.
Yasser Abu Shahab merupakan pemimpin kelompok bersenjata Popular Forces (Pasukan Rakyat Gaza), yang berbasis di Rafah yang dikuasai Israel di wilayah Gaza selatan.
Kelompok ini secara terang-terangan menentang keberadaan Hamas, sebagai otoritas yang berkuasa di Palestina. Mereka menyatakan diri sebagai "Kelompok Nasionalis".
Israel pun menggunakan cara-cara licik untuk membekingi kelompok bersenjata anti-Hamas seperti geng Abu Shahab.
Laporan dari The Associated Press (AP) menyatakan bahwa Perdana Menteri Benyamin Netanyahu secara terus terang memang mendukung kelompok perlawanan ini.
"Israel mendukung kelompok-kelompok bersenjata Palestina di Gaza dalam apa yang disebutnya sebagai langkah untuk melawan Hamas. Namun, para pejabat PBB dan organisasi-organisasi bantuan mengatakan militer membiarkan mereka menjarah makanan dan pasokan lainnya dari truk-truk mereka," demikian AP menuliskan Juni lalu saat kelompok ini menjarah banyak bantuan yang masuk ke Jalur Gaza.
Didukung Israel
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan dalam sebuah video media sosial bahwa Israel telah "mengaktifkan" klan-klan di Gaza untuk melawan Hamas.
Ia tidak menjelaskan bagaimana Israel mendukung mereka atau peran apa yang Israel inginkan dari mereka. Komentar Netanyahu merupakan tanggapan atas tuduhan lawan politiknya yang mempersenjatai "keluarga kriminal" di Gaza.
Namun, salah satu cara yang dibangun oleh Israel adalah dengan mendekati klan atau suku, dan keluarga besar memiliki pengaruh yang kuat di Gaza.
Dari sini, para pemimpin mereka sering membantu memediasi perselisihan. Beberapa telah lama bersenjata untuk melindungi kepentingan kelompok mereka, dan beberapa telah berubah menjadi geng yang terlibat dalam penyelundupan narkoba atau menjalankan bisnis pemerasan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Setelah merebut kekuasaan pada tahun 2007, Hamas menindak tegas geng-geng Gaza, terkadang dengan kekerasan dan terkadang dengan memberikan keuntungan bagi mereka.
Namun, dengan melemahnya kekuatan Hamas setelah 20 bulan berperang dengan Israel, geng-geng kembali bebas beraksi dengan bantuan Israel. Salah aksi yang mereka jalankan adalah menjarah bantuan yang masuk ke Gaza.
Kantor media kelompok Abu Shabab mengatakan kepada AP bahwa mereka bekerjasama dengan Global Health Fundd (GHF) "memastikan makanan dan obat-obatan sampai ke penerima."
Mereka menyatakan tidak terlibat dalam distribusi, tetapi para pejuangnya mengamankan area di sekitar pusat distribusi yang dikelola GHF di dalam zona yang dikuasai militer di wilayah Rafah.
Seorang juru bicara GHF mengatakan pihaknya "tidak bekerja sama" dengan Abu Shabab.
"Kami memang memiliki pekerja Palestina lokal yang sangat kami banggakan, tetapi tidak ada yang bersenjata, dan mereka tidak tergabung dalam organisasi Abu Shabab," kata juru bicara tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim sesuai dengan aturan kelompok tersebut.
Sosok pemimpin ini, Yasser Abu Shabab, dikenal banyak terlibat dalam penyelundupan rokok dan narkoba dari Mesir dan Israel ke Gaza melalui penyeberangan dan terowongan, menurut dua anggota keluarga besarnya, salah satunya pernah menjadi bagian dari kelompoknya.
Hamas pernah menangkap Abu Shabab tetapi membebaskannya dari penjara bersama sebagian besar narapidana lainnya ketika perang dimulai pada Oktober 2023.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pimpinan geng bersenjata anti-Hamas, Yasser Abu Shahab, tewas di Jalur Gaza saat menengahi pertikaian keluarga.
Yasser Abu Shahab merupakan pemimpin kelompok bersenjata Popular Forces (Pasukan Rakyat Gaza), yang berbasis di Rafah yang dikuasai Israel di wilayah Gaza selatan.
Kelompok ini secara terang-terangan menentang keberadaan Hamas, sebagai otoritas yang berkuasa di Palestina. Mereka menyatakan diri sebagai "Kelompok Nasionalis".
Israel pun menggunakan cara-cara licik untuk membekingi kelompok bersenjata anti-Hamas seperti geng Abu Shahab.
Laporan dari The Associated Press (AP) menyatakan bahwa Perdana Menteri Benyamin Netanyahu secara terus terang memang mendukung kelompok perlawanan ini.
"Israel mendukung kelompok-kelompok bersenjata Palestina di Gaza dalam apa yang disebutnya sebagai langkah untuk melawan Hamas. Namun, para pejabat PBB dan organisasi-organisasi bantuan mengatakan militer membiarkan mereka menjarah makanan dan pasokan lainnya dari truk-truk mereka," demikian AP menuliskan Juni lalu saat kelompok ini menjarah banyak bantuan yang masuk ke Jalur Gaza.
Didukung Israel
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan dalam sebuah video media sosial bahwa Israel telah "mengaktifkan" klan-klan di Gaza untuk melawan Hamas.
Ia tidak menjelaskan bagaimana Israel mendukung mereka atau peran apa yang Israel inginkan dari mereka. Komentar Netanyahu merupakan tanggapan atas tuduhan lawan politiknya yang mempersenjatai "keluarga kriminal" di Gaza.
Namun, salah satu cara yang dibangun oleh Israel adalah dengan mendekati klan atau suku, dan keluarga besar memiliki pengaruh yang kuat di Gaza.
Dari sini, para pemimpin mereka sering membantu memediasi perselisihan. Beberapa telah lama bersenjata untuk melindungi kepentingan kelompok mereka, dan beberapa telah berubah menjadi geng yang terlibat dalam penyelundupan narkoba atau menjalankan bisnis pemerasan.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Cara Licik Israel Dukung Kelompok Bersenjata Anti-Hamas
Pengakuan PM Israel Benjamin Netanyahu yang menyokong geng Abu Shabab. (REUTERS/Kylie Cooper)
Setelah merebut kekuasaan pada tahun 2007, Hamas menindak tegas geng-geng Gaza, terkadang dengan kekerasan dan terkadang dengan memberikan keuntungan bagi mereka.
Namun, dengan melemahnya kekuatan Hamas setelah 20 bulan berperang dengan Israel, geng-geng kembali bebas beraksi dengan bantuan Israel. Salah aksi yang mereka jalankan adalah menjarah bantuan yang masuk ke Gaza.
Kantor media kelompok Abu Shabab mengatakan kepada AP bahwa mereka bekerjasama dengan Global Health Fundd (GHF) "memastikan makanan dan obat-obatan sampai ke penerima."
Mereka menyatakan tidak terlibat dalam distribusi, tetapi para pejuangnya mengamankan area di sekitar pusat distribusi yang dikelola GHF di dalam zona yang dikuasai militer di wilayah Rafah.
Seorang juru bicara GHF mengatakan pihaknya "tidak bekerja sama" dengan Abu Shabab.
"Kami memang memiliki pekerja Palestina lokal yang sangat kami banggakan, tetapi tidak ada yang bersenjata, dan mereka tidak tergabung dalam organisasi Abu Shabab," kata juru bicara tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim sesuai dengan aturan kelompok tersebut.
Sosok pemimpin ini, Yasser Abu Shabab, dikenal banyak terlibat dalam penyelundupan rokok dan narkoba dari Mesir dan Israel ke Gaza melalui penyeberangan dan terowongan, menurut dua anggota keluarga besarnya, salah satunya pernah menjadi bagian dari kelompoknya.
Hamas pernah menangkap Abu Shabab tetapi membebaskannya dari penjara bersama sebagian besar narapidana lainnya ketika perang dimulai pada Oktober 2023.