Siapa Reza Pahlavi yang Diminta Rakyat Pimpin Iran?
Pemimpin oposisi Iran, Reza Pahlavi, meminta warga Iran terus berunjuk rasa dan merebut kota-kota di negara tersebut.
Dalam video yang diambil di Amerika Serikat (AS), Pahlavi menyatakan rakyat Iran kini harus mulai bersiap untuk merebut pusat-pusat kota. Ia berujar aksi warga sekarang bukan lagi sekadar turun ke jalan, melainkan untuk meraih kemenangan atas "revolusi nasional".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Senin (12/1), Pahlavi mengunggah video lain yang menyerukan aparat keamanan untuk bergabung dengan rakyat melawan rezim Ayatollah Ali Khamenei. Jika tidak, mereka akan jadi "target yang sah".
Pahlavi juga mendesak semua kedutaan besar Iran mengganti bendera pasca Revolusi Iran ke bendera sebelumnya. Ia menegaskan "kemerdekaan Iran sudah dekat" dan "bantuan internasional akan segera tiba."
Profil Reza Pahlavi
Reza Pahlavi merupakan Putra Mahkota terakhir Kerajaan Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi yang kini diasingkan dari Iran. Ia saat ini berada di Amerika Serikat.
Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960 dan secara resmi dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967.
Pada 1978, di usianya yang ke-17 tahun, Pahlavi pergi ke AS untuk pelatihan pilot di Pangkalan Angkatan Udara Reese di Lubbock, Texas.
Di tahun berikutnya, ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan dalam pemberontakan Islamis di mana ulama Syiah kemudian mendirikan pemerintahan teokrasi Iran.
Sejak penggulingannya, sang Shah Iran berjuang mencari perlindungan di negara lain dan akhirnya meninggal dunia karena kanker di Mesir. Mulai saat itu, Pahlavi mengambil alih peran sebagai syah.
Ia tinggal di AS, belajar ilmu politik, menikah dengan warga Iran-Amerika Yasmine Etemad-Amini, dan memiliki tiga putri.
Dilansir dari The National, Pahlavi mengunjungi Israel pada 17 April 2023. Lawatan itu disebut sebagai "upaya untuk membangun kembali hubungan bersejarah antara Iran dan Israel".
Pahlavi menghadiri upacara Hari Peringatan Holocaust, mengunjungi Tembok Barat, dan bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pahlavi selama ini dikritik karena dukungannya terhadap Israel, terutama setelah Iran dan Israel berperang 12 hari pada Juni 2025 lalu. Ia dicap sebagai "pengkhianat" oleh banyak tokoh oposisi Iran, termasuk beberapa tahanan politik terkemuka Teheran.
Dilansir dari Euronews, Pahlavi selama ini menekankan tak ingin pemulihan monarki Iran. Ia mau menggulingkan rezim Ayatollah Ali Khamenei dengan referendum di mana rakyat Iran bebas menentukan sistem politik yang mereka inginkan.
Saat Iran dilanda demo besar pada tahun 2022 buntut kematian Mahsa Amini, Pahlavi mendukung unjuk rasa tersebut. Ia menegaskan tak boleh ada kekerasan terhadap rakyat.
Kala itu, sejumlah demonstran meneriakkan slogan-slogan untuk mendukung Pahlavi memimpin Teheran.
Dalam demo kali ini, Pahlavi telah menyatakan siap untuk kembali ke Iran seiring dengan masifnya dukungan rakyat Iran terhadapnya.

