Demo di London, Paris, hingga Istanbul Dukung Aksi Protes Iran

CNN Indonesia
Senin, 12 Jan 2026 14:15 WIB
Para demonstran di London, Paris, dan Istanbul berkumpul untuk mendukung protes di Iran, pada Minggu (11/1).
Demo di London mendukung protes pemerintah di Iran. (AFP/CARLOS JASSO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para demonstran di London, Paris, dan Istanbul berkumpul untuk mendukung protes di Iran, pada Minggu (11/1).

Demo berdarah di sejumlah kota di Iran mengakibatkan 500 orang tewas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di London, demonstrasi awalnya berlangsung di depan Kedutaan Besar Iran lalu berlanjut ke kediaman PM Inggris Keir Starmer menarik ribuan peserta seiring bertambahnya waktu.

"Kami menginginkan revolusi, mengganti rezim," kata seorang warga Iran Afsi (38) kepada AFP di depan Downing Street.

Afsi tinggal di London selama tujuh tahun, dan tidak dapat menghubungi keluarganya di Iran karena pemadaman internet oleh otoritas setempat sejak Kamis.

"Ini sangat membuat frustasi, tetapi ini bukan pertama kalinya. Kali ini, kami punya harapan kami merasa kami bisa melakukannya (menggulingkan pemerintah) kali ini," ujarnya, seperti dikutip CNA.

Selain itu, Fahimeh Moradi (52), mengatakan ia ikut serta "untuk mendukung rakyat Iran yang dibunuh dan dibantai oleh rezim Iran, kami tidak menginginkan Republik Islam Iran, kami membenci mereka!"

"Anak saya ada di sana, dan saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Kami hanya ingin rezim pembunuh ini meninggalkan Iran, itu saja!" tambah dia.

Di Paris, lebih dari 2.000 orang mengibarkan bendera Iran sebelum Revolusi Islam 1979 menggelar demonstrasi, sambil berteriak "Tidak untuk Republik Islam teroris."

"Tutup kedutaan para mullah, pabrik teroris," teriak sejumlah demonstran.

Sementara itu, seorang mahasiswa Iran berusia 20 tahun bernama Arya mengatakan kondisi terkait aksi demo yang dilakukan di Iran.

"Di iran, rakyat turun ke jalan, dan kami orang Iran di luar negeri berada di sini untuk menunjukkan bahwa kami bersama mereka dan mereka tidak sendirian," ujarnya.

Ia juga menambahkan sedang menunggu arahan dari putra shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, yang bermukim di Amerika Serikat, mengenai "apa yang harus kami lakukan."

Otoritas Iran juga menyebut para demonstran sebagai "perusuh" yang didukung oleh AS dan Israel.

Di Istanbul, para demonstran yang menyuarakan dukungan bagi pemrotes Iran berkumpul di tengah hujan.

Polisi menutup area di luar konsulat Iran dan menjaga massa agar tidak mendekati gedung tersebut.

Sementara itu seorang perempuan muda Iran yang tinggal di Turki bernama Nina mengatakan ia belum mendapatkan kabar dari negaranya.

"Sudah 72 jam kami tidak mendapat kabar dari negara kami, dari keluarga kami. Tidak ada internet atau televisi, kami tidak bisa lagi menghubungi Iran," ujar Nina.

"Rezim membunuh secara acak, baik keluarga yang berjalan kaki maupun yang berada di dalam mobil, termasuk anak-anak. Tidak ada yang diselamatkan," tambah dia.

Para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman pada Jumat mengecam "pembunuhan terhadap para demonstran" di Iran, sementara Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan negaranya siap "memberikan bantuan" di tengah aksi protes di Iran.

Menurut LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia, tindakan keras otoritas Iran telah menyebabkan sedikitnya 192 orang tewas.

Pusat Hak Asasi Manusia di Iran (Center for Human Rights in Iran/CHRI) yang berbasis di AS mengatakan menerima laporan tentang "ratusan demonstran" yang tewas di seluruh Iran sejak pembatasan internet diberlakukan.

Protes yang awalnya dipicu kemarahan atas peningkatan biaya hidup yang berlangsung selama dua pekan dan berkembang menjadi gerakan menentang sistem teokrasi yang berlaku sejak revolusi 1979.

(rnp/bac)


[Gambas:Video CNN]