Dua Provinsi Pakistan Dilanda Kekerasan Terparah dalam Satu Dekade

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 08:51 WIB
Pakistan disebut alami aksi kekerasan terparah dalam satu dekade. Foto: AFP
Jakarta, CNN Indonesia --

Data terbaru dari Centre for Research and Security Studies (CRSS) menunjukkan paradoks keamanan di Pakistan.

Meski terjadi penurunan taktis serangan lintas batas setelah penutupan sejumlah titik penyeberangan Garis Durand pada Oktober 2025, negara tersebut justru mencatat tahun paling mematikan dalam satu dekade.

Kekerasan sangat terkonsentrasi di dua provinsi perbatasan, yakni Khyber Pakhtunkhwa (KP) dan Balochistan, yang sekaligus menjadi wilayah kunci bagi sektor energi dan pertambangan Pakistan.

Secara nasional, tingkat kekerasan di Pakistan meningkat hampir 34 persen secara tahunan, dengan jumlah korban tewas naik dari 2.555 orang pada 2024 menjadi 3.417 orang pada 2025. Tren ini memperpanjang kenaikan berkelanjutan selama lima tahun sejak kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan pada 2021.

Sejak saat itu, setiap tahun mencatat lonjakan dua digit, termasuk kenaikan sekitar 56 persen pada 2023, hampir 67 persen pada 2024, dan kembali naik 34 persen pada 2025. Pola tersebut menunjukkan eskalasi struktural, bukan gejolak sesaat.

Perbatasan Afghanistan-Pakistan

Sebagian besar kekerasan terjadi di KP dan Balochistan, yang secara gabungan menyumbang lebih dari 96 persen total korban tewas dan hampir 93 persen insiden kekerasan nasional pada 2025. KP menjadi wilayah paling terdampak, dengan korban tewas melonjak 44 persen dari 1.620 orang pada 2024 menjadi 2.331 orang pada 2025.

Sementara itu, Balochistan mencatat kenaikan korban dari 787 menjadi 956 orang, atau naik hampir 22 persen. Kedua provinsi ini merupakan tulang punggung potensi energi air, koridor energi lintas negara, mineral kritis, serta proyek tembaga-emas, batu bara, dan infrastruktur energi pesisir.

CRSS mencatat bahwa setelah Pakistan menutup perbatasan dengan Afghanistan pada 11 Oktober 2025, jumlah serangan teror turun hampir 17 persen pada Desember, menyusul penurunan sekitar 9 persen pada November.

Korban sipil dan aparat keamanan juga dilaporkan menurun masing-masing sekitar 4 persen dan 19 persen dalam periode tersebut. Namun, penurunan jangka pendek ini dinilai terbatas secara strategis karena tidak mampu mengimbangi lonjakan kekerasan sepanjang tahun.

TTP dan ISIS

Dari sisi target, aparat keamanan tetap menjadi sasaran utama kelompok militan sepanjang 2025. Tentara Pakistan dan Frontier Corps mencatat 374 korban tewas, termasuk 22 perwira, sementara kepolisian kehilangan 216 personel.

Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) menjadi kelompok yang paling banyak mengklaim serangan terhadap aparat, disusul oleh Balochistan Liberation Army (BLA), Baloch Liberation Front (BLF), serta afiliasi regional Islamic State (ISIS). Kelompok-kelompok ini dikenal kerap menargetkan infrastruktur strategis, proyek terkait China, dan simbol negara.

Laporan CRSS juga menyebut 2025 sebagai tahun paling mematikan bagi kelompok militan dalam satu dekade, dengan lebih dari 2.060 militan tewas dalam sedikitnya 392 operasi keamanan. Meski menunjukkan intensitas operasi negara, tingginya korban di kedua sisi mencerminkan lingkungan konflik yang masih cair dan penuh aksi balasan, bukan konsolidasi kendali keamanan yang stabil.

Bagi investor, situasi ini menegaskan bahwa penutupan perbatasan Afghanistan lebih bersifat langkah taktis daripada solusi strategis.

Kenaikan kekerasan tahunan yang konsisten sejak 2021 serta konsentrasi konflik di KP dan Balochistan menunjukkan bahwa risiko keamanan jangka panjang, khususnya bagi proyek energi dan pertambangan dengan siklus investasi puluhan tahun, masih tinggi dan sulit diprediksi.

(dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK