Rezim Khamenei Iran Musuh Terkuat Israel, Akankah Mudah Ditumbangkan?

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 16:30 WIB
Bagi Israel, rezim Iran saat ini adalah musuh terkuat di Timur Tengah, yang terus digoyahkan dengan berbagai cara.
Israel paling ngotot menumbangkan rezim Ayatollah Ali Khamenei di Iran. (via REUTERS/Office of the Iranian Supreme Le)
Jakarta, CNN Indonesia --

Selain Amerika SerikatIsrael adalah negara yang sangat menginginkan pemerintahan otokrasi Iran segera tumbang.

Bagi Israel, Iran adalah musuh terkuat di Timur Tengah, yang terus digoyahkan dengan berbagai cara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah serangan 12 hari Juli lalu ke pangkalan nuklir Iran, Israel sedang menanti demonstrasi yang perlahan diharapkan menumbangkan pemerintahan Iran.

Mantan Kepala Dinas Intelijen Inggris M16 John Sawers, dalam laman Financial Times Juli lalu, memberikan analisis bahwa seranga ke Iran diharapkan melumpuhkan negeri para mullah tersebut.

"Setelah menyerang sekali, Israel mungkin harus kembali secara berkala untuk 'memangkas rumput' jika Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Serangan belum berakhir dan peningkatan serangan untuk melumpuhkan infrastruktur minyak membawa risiko pembalasan Iran yang lebih luas di Teluk. Namun sejauh ini tampaknya Israel mencapai tujuannya," kata Sawers.

Langkah ini, kata Sawers, akan membuat rakyat Iran yang bangga, berpendidikan tinggi, dan berjiwa wirausaha merasa frustrasi karena tertinggal jauh dari negara-negara tetangga Arab mereka. Sampai pada akhirnya, di mata rakyatnya sendiri, Revolusi Islam merupakan kegagalan yang dahsyat.

"Lalu bagaimana kelanjutannya? Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ingin rezim Iran digulingkan," katanya.

Benar saja, saat demo besar-besaran terus membara, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel pada Minggu (28/12) membuat pernyataan bahwa demonstrasi di Iran meletus karena masyarakat sudah kepalang muak dengan rezim Khamenei.

"Rakyat Iran sudah muak dengan rezim dan perekonomian yang kolaps," demikian pernyataan Kemlu Israel di akun X berbahasa Persia pada Minggu (28/12).

Mantan perdana menteri (PM) Israel, menteri-menteri Israel, sampai PM Israel Benjamin Netanyahu juga ramai-ramai menyuarakan dukungan terhadap masyarakat Iran. Dalam pernyataan saat wawancara dengan Newsmax, Netanyahu mengatakan Negeri Zionis sepenuhnya bersimpati dengan rakyat Iran.

Ia berujar rezim Iran saat ini telah menindas masyarakat Teheran yang memiliki masa lalu serta masa depan gemilang.

"Jika ada perubahan, itu akan datang dari dalam. Itu tergantung pada rakyat Iran. Kami memahami apa yang mereka alami dan kami sangat bersimpati kepada mereka," kata Netanyahu, seperti dikutip Iran International.

"Rezim tirani ini telah menindas rakyat Iran. Mereka adalah orang-orang hebat, sangat berbakat dengan masa lalu gemilang, dan bisa memiliki masa depan yang gemilang pula. Namun masa depan ini direbut oleh para preman teologis, para mullah dan Ayatollah yang berada di puncak kekuasaan," lanjutnya.

Tampaknya penguasa Iran masih mampu mempertahankan kekuasaan mereka. Setelah demo anti-pemerintah, kini malah datang para pendemo pro-pemerintah.

Hal itu setelah pemerintah Iran pada Minggu (11/01) mengumumkan tiga hari berkabung nasional bagi anggota pasukan keamanan yang tewas selama dua pekan protes.

Pihak otoritas Iran menyebut aksi-aksi tersebut sebagai kerusuhan dan memuji aparat yang tewas sebagai "martir".

Model kekuasaan Iran yang terdiri dari kepemimpinan tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, badan eksekutif di bawah Presiden Masoud Pezeshkian, dewan syura, dan parlemen, dinilai analis terlalu kuat untuk ditumbangkan dari dalam.

Meski demikian, kesulitan ekonomi yang kian mencekik Iran dinilai pengamat Timur Tengah dari the Quincy Institute for Responsible Statecraft Trita Parsi, mengancam Teheran semakin dekat ke jurang keruntuhan rezim.

"Ini kondisi ekonomi yang jauh lebih lemah, situasi geopolitik yang jauh lebih buruk dihadapi Iran. Perbedaan sikap di dalam sistem jelas berada di level yang berbeda," kata Parsi dikutip dari Al Jazeera.

Ia menjabarkan pemerintah Iran tak akan mampu mengatasi masalah mendasar yang mendorong kerusuhan meski bisa meredam demonsstrasi, kecuali para pemimpin Iran mencapai kesepakatan agar sanksi AS dicabut.

"Kita telah mencapai titik di mana jarak antara Amerika Serikat dan Iran, di mana mereka dapat mengabaikannya dan melanjutkan status quo, sama sekali tidak ada lagi. Sesuatu harus berubah dalam masalah ini," ujar Parsi.

(imf/bac)


[Gambas:Video CNN]