3 Tanda Rezim Khamenei di Iran Bisa Makin Melemah
2. Faktor eksternal
Trump sudah berulang kali menyatakan ancaman untuk menggempur Iran dengan dalih membela warga sipil. Sebelum perang 12 hari, Teheran bisa saja menganggap ancaman itu gertakan biasa.
Namun, setelah perang Juni berlangsung, Iran harus punya strategi baru dan bersiap.
AS mungkin juga memilih untuk menargetkan para pemimpin milisi Basij. Namun, tidak seperti serangan AS sebelumnya, operasi tersebut akan lebih dinamis dan tidak pasti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di luar aksi militer, Trump bisa memperketat sanksi terhadap Iran. Ia juga bisa bekerja sama dengan perusahaan teknologi terkemuka AS untuk mendukung langkah-langkah yang mungkin memungkinkan warga Iran untuk mengatasi pemadaman komunikasi di negara tersebut.
Tak cuma itu, Iran bisa mendorong sekutu untuk bergabung dengan turut menjatuhkan sanksi ke negara Timur Tengah ini.
3. Krisis suksesi
Khamenei berusia 86 tahun dan berada di dekade keempat kekuasaannya.
Selama perang Juni tahun lalu, Khamenei tampak absen dari pandangan publik. Ketidakhadiran ini terus jadi pertanyaan dan menggema.
Selain itu, banyak ajudan dan orang kepercayaan Khamenei tewas dalam Perang 12 Hari. Sebegitu banyak pejabat penting yang gugur, kekompakan aparatur dalam mengambil keputusan pun diuji.
Tanpa ada gejolak rakyat, Iran pun sudah di ada perubahan sistemik. Salah satu kemungkinan hasilnya adalah evolusi teokrasi Islam menjadi negara nasionalis garis keras yang diperintah struktur keamanan.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij punya banyak pengalaman menekan tuntutan rakyat dengan kekerasan massal. Di tubuh korps itu juga belum ada tanda-tanda perubahan struktur akibat pembelotan.
Namun, krisis suksesi yang membayangi, bersamaan dengan kerentanan dan keresahan rakyat yang meluas, menciptakan kondisi unik perubahan revolusioner. SItuasi ini punya kesamaan dengan pemberontakan yang melanda Iran 47 tahun lalu dan mengarah ke pendirian Republik Islam.
(isa/rds)[Gambas:Video CNN]
