AS Tarik Pasukan dari Pangkalan Timur Tengah, Siaga Serangan Iran?
Amerika Serikat (AS) menarik sebagian pasukannya dari pangkalan-pangkalan militer di Timur Tengah menyusul situasi panas di Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada Rabu (14/1) bahwa beberapa personel militer AS di pangkalan-pangkalan kunci Timur Tengah saat ini ditarik kembali. Ia memperkirakan serangan AS ke Iran akan terjadi dalam waktu dekat.
"Semua sinyal menunjukkan bahwa serangan AS akan terjadi sebentar lagi. Begitulah cara pemerintahan ini bertindak untuk membuat semua orang selalu waspada. Ketidakpastian adalah bagian dari strategi," ucap sang pejabat yang tak ingin disebutkan identitasnya.
Namun, pernyataan berbeda datang dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump mengatakan saat ini situasi di Iran sudah mulai membaik karena kekerasan terhadap pedemo telah mereda.
Trump mengisyaratkan bahwa ia akan memantau dahulu perkembangan krisis di Iran. Ia sendiri masih belum mengesampingkan opsi serangan militer.
"Kita akan mengamati bagaimana prosesnya," kata Trump.
Dua pejabat Eropa sementara itu mengatakan intervensi militer AS dapat terjadi dalam waktu 24 jam ke depan. Seorang pejabat Israel juga menilai Trump tampaknya sudah memutuskan untuk turun tangan dalam demo Iran, meski belum diketahui bagaimana dan kapan.
Militer Qatar telah menarik pasukan dari pangkalan Al Udeid, pangkalan terbesar AS di Timur Tengah yang diserang Iran pada Juni lalu. Penarikan dilakukan "sebagai tanggapan terhadap ketegangan regional saat ini."
Inggris juga sudah menarik sebagian personelnya dari pangkalan udara di Qatar, menurut laporan surat kabar The I Paper. Kementerian Pertahanan Inggris belum memberikan komentar.
Sejauh ini, belum ada tanda-tanda pasukan diangkut ke bus menuju stadion sepak bola atau pusat perbelanjaan. Sebelum serangan rudal Iran tahun lalu, sejumlah besar personel militer diangkut dengan bus ke lokasi-lokasi tersebut.
Sejak demo Iran memanas, Presiden AS Donald Trump mengatakan bakal turun tangan membantu rakyat Teheran. Trump sudah menggodok beberapa opsi, termasuk meluncurkan serangan militer.
Menurut kelompok hak asasi manusia di AS HRANA, demo Iran yang pecah sejak 28 Desember telah menewaskan lebih dari 2.000 orang. CNN Indonesia belum bisa memverifikasi laporan ini seiring pembatasan internet yang masih berlangsung di Iran dan media-media resmi tak bisa diakses.
Iran dari awal menyatakan unjuk rasa di negaranya telah disusupi dan ditunggangi AS dan Israel. Demo Iran sendiri mulanya pecah karena masalah anjloknya nilai tukar rial.
Iran sudah memperingatkan akan meluncurkan serangan antisipasi apabila AS dan Israel ikut campur masalah domestik mereka.
(blq/dna)