156 Jam Tanpa Internet, Demo Berdarah di Iran Makin Mencekam

rnp | CNN Indonesia
Kamis, 15 Jan 2026 20:45 WIB
Demo berdarah di Iran yang berlangsung sejak 28 Desember makin mencekam menyusul pemadaman internet nasional selama 156 jam terakhir. (Foto: via REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Demonstrasi berdarah di Iran yang berlangsung sejak 28 Desember lalu makin mencekam menyusul pemadaman internet di seluruh negeri oleh pemerintah selama 156 jam terakhir per Kamis (15/1).

Kondisi ini menyulitkan pelaporan real time dan menyebabkan informasi dari dalam negeri sulit tersampaikan ke dunia luar, termasuk simpang siur mengenai jumlah korban tewas yang dikabarkan telah mencapai lebih dari 2 ribu orang.

Melansir situs CNN, pengawas keamanan siber NetBlocks menyebut di X bahwa pemadaman komunikasi yang memasuki hari ketujuh "memperkuat akun pro-rezim, menyebarkan konten palsu AI, dan agenda lainnya."

Situasi ini juga membuat pemantauan kondisi di dalam Iran secara real time menjadi sulit.

Selain itu, pemadaman internet juga membuat verifikasi jumlah korban tewas dalam aksi protes berdarah di Iran menjadi sulit.

Terdapat berbagai laporan dari media terkait jumlah korban tewas di Iran, sehingga menimbulkan simpang siur mengenai jumlah korban sebenarnya.

Berdasarkan catatan HRANA, hingga Rabu (14/1), tercatat 2.615 orang meninggal, termasuk 13 anak di bawah 18 tahun dan 14 warga sipil non-demonstran.

Sebanyak 153 korban lainnya adalah anggota pasukan keamanan dan pengunjuk rasa pro-pemerintah, sementara 882 kasus lainnya masih dalam penyelidikan.

Kelompok HAM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan 3.428 korban tewas per Rabu.

IHR mengklaim mendapatkan data dari Kementerian Kesehatan Iran serta dokumentasi rumah sakit dan kamar jenazah, yang menyebut 3.379 demonstran tewas pada 8-12 Januari.

Selain itu, intelijen Israel memperkirakan sekitar 5.000 orang tewas, sementara media Iran International yang berbasis di Inggris menyebut korban tembus lebih dari 12.000 jiwa.

Namun hingga kini, CNN Indonesia belum memperoleh data pembanding terkait jumlah korban tewas dari media resmi Iran seperti IRNA, Mehr News, dan Fars.

Hal itu disebabkan akses internet di Iran masih terputus total sehingga laman media-media tersebut tidak dapat diakses.

Sebagai upaya untuk membantu warga Iran tetap terhubung ke internet, Prancis sedang meninjau kemungkinan mengirim terminal Eutelsat agar warga Iran bisa mengakses internet melalui satelit selama pemadaman berlangsung.

Eutelsat, operator satelit yang berbasis di Paris, memiliki armada satelit orbit rendah yang dapat menyediakan layanan internet dari luar angkasa.

Anak perusahaannya, OneWeb, menjadi pesaing Starlink milik Elon Musk, yang saat ini memberikan akses internet gratis kepada pengguna di Iran.

(rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK