Bisakah Iran Andalkan Rusia dari Serangan AS-Israel?
Hubungan sependeritaan kedua negara juga dibangun karena kedua negara ini sama-sama pernah mendapatkan sanksi dari negara-negara barat.
Rusia disanksi AS dan sejumlah negara Eropa, misalnya, karena menyerang Ukraina. Meski dalam jumpa pers di Istana Kepresidenan Rusia Kremlin tahun lalu, Putin menegaskan Rusia tidak akan tunduk pada sanksi yang dijatuhkan AS dan negara manapun.
Ia menilai sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada Moskow malah bisa menjadi bumerang bagi negara-negara tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sanksi-sanksi itu sama sekali tidak memengaruhi Rusia, apalagi menjadikan negaranya itu sulit dan miskin.
"(Sanksi) ini akan memiliki konsekuensi tertentu, namun tidak akan secara signifikan memengaruhi kesejahteraan ekonomi kami," kata Putin seperti dikutip Reuters.
Begitu pula Iran sudah sejak tahun 1979 terkena embargo negara-negara barat. Sanksi itu mencakup pembekuan aset, embargo perdagangan (terutama minyak), pembatasan sektor keuangan (seperti SWIFT), larangan transfer dana, dan embargo senjata, dengan tujuan menekan program nuklir dan militer mereka, yang berdampak signifikan pada ekonomi dan kehidupan warga sipil Iran.
Pada 1995 AS lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa menjatuhkan sanksi karena dituding mengembangkan senjata nuklir. Sanksi ini terus berlanjut hingga sekarang.
Dikutip dari situs Columbia University, sanksi ini diperluas untuk mencakup embargo penuh dan komprehensif terhadap perdagangan bilateral (diberlakukan melalui EO 12957 dan EO 12959 yang ditandatangani oleh Presiden Clinton) dan, pada tahun 1996, sanksi yang berupaya mengisolasi Iran dari perusahaan energi non-AS juga.
Perkembangan ini memunculkan terciptanya konsep baru, yaitu sanksi "sekunder". Berbeda dari sanksi "primer" (yang menargetkan perdagangan AS dengan negara asing), sanksi sekunder menargetkan orang atau entitas non-AS agar tidak terlibat dalam perdagangan dengan negara asing lainnya.
Pada tahun 2005, saat Presiden Iran Ahmadinejad menolak tawaran negosiasi Eropa untuk akses aktivitas nuklir yang ditangguhkan, sanksi kembali dijatuhkan.
Kenyang dengan sanksi membuat negara ini jadi kebal. Berkali-kali Amerika memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk menghentikan program nuklirnya, namun tidak pernah membuahkan hasil.
Sampai-sampai Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, "Kami tidak akan mati kelaparan jika mereka menolak berunding dengan kami atau menjatuhkan sanksi," dikutip oleh media pemerintah tentang pembicaraan dengan Washington.
"Kami akan menemukan cara untuk bertahan hidup," ujarnya dikutip dari Reuters.
Sanksi ini diberlakukan dalam beberapa gelombang dan terus-menerus sampai sekarang. Dan itulah yang membuat Iran dan Rusia menjadi semakin akrab.
(imf/bac)[Gambas:Video CNN]

