Reza Pahlavi Yakin Rezim Khamenei Runtuh Meski Trump Belum Cawe-cawe

CNN Indonesia
Senin, 19 Jan 2026 07:33 WIB
Anak mendiang mantan Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi meyakini kerusuhan massal di negara tersebut bisa menggulingkan pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: REUTERS/Abdul Saboor)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak mendiang pemimpin Iran Shah Mohammad Reza Pahlavi, Reza Pahlavi, meyakini kerusuhan massal di negara tersebut bisa menggulingkan pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.

Pahlavi menegaskan Iran akan runtuh dan cuma menunggu waktu meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum cawe-cawe.

"Republik Islam Iran akan runtuh, bukan jika tapi kapan," kata Pahlavi pada Jumat (16/1), dikutip AFP.

Sejak demonstrasi pecah di Iran pada akhir Desember lalu, oposisi yang tinggal di Washington itu terus mendesak pemerintahan Trump untuk ikut campur.

Beberapa pekan lalu, Trump memang sesumbar akan melakukan serangan militer di Iran jika pembunuhan terhadap demonstran tak berhenti. Dia dan sejumlah pejabat negara Barat meyakini banyak korban tewas akibat penggunaan kekuatan berlebih di tengah demonstrasi itu.

Namun, Trump hingga kini belum melancarkan operasi militer atau serangan apapun terhadap Iran. Warga yang demonstrasi juga kian berkurang dalam beberapa hari terakhir.

Di luar itu, Trump meragukan Pahlavi bisa diterima warga Iran untuk memimpin negara tersebut. Anak Shah Pahlavi ini tampak berambisi menggulingkan pemerintahan Khamenei.

Namun, saat ditanya apakah Trump memberi harapan palsu, dia justru yakin sepenuhnya ke presiden AS itu.

"Saya percaya Presiden Trump adalah orang yang menepati janji dan pada akhirnya dia akan berdiri di pihak rakyat Iran seperti yang telah dia katakan," ungkap Pahlavi.

Dia lalu berujar, "Rakyat Iran mengambil tindakan tegas di lapangan. Sekarang saatnya bagi komunitas internasional untuk bergabung sepenuhnya dengan mereka."

Pahlavi juga menyerukan komunitas internasional mengusir diplomat Iran dari negaranya dan meminta Korps Angkatan Bersenjata Iran (IRGC) memberontak atau membelot.

Dia menggambarkan negara yang dipimpin para ulama itu sebagai kekuatan pendudukan dan telah melakukan kejahatan massal.

"Saya menegaskan kembali janji seumur hidup saya untuk memimpin gerakan yang akan merebut kembali negara kita dari kekuatan musuh anti-Iran yang mendudukinya dan membunuh anak-anaknya," ujar Pahlavi.

Iran dilanda gelombang demonstrasi sejak akhir Desember lalu. Mulanya, warga protes soal inflasi yang melangit. Namun, tuntutan meluas jadi desakan agar Khamenei mundur.

Di tengah desakan itu, Khamenei mengatakan tak akan memberi toleransi kepada para pedemo yang merusak fasilitas sipil dan mendukung Trump.

Dia menuduh kekacauan di tengah demonstrasi adalah campur tangan dari pemerintah AS.

Menurut laporan lembaga pemantau hak asasi manusia di AS, sepanjang demonstrasi tersebut ada 646 orang tewas. Namun, jumlah ini tak bisa dikonfirmasi secara independen.

(isa/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK