Bagaimana Perlakuan Denmark ke Penduduk Asli Greenland?

CNN Indonesia
Kamis, 22 Jan 2026 17:48 WIB
Bagaimana perlakuan pemerintah Denmark terhadap warga asli Greenland? (AFP/OLIVIER MORIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wilayah Greenland yang kini jadi sorotan dunia karena ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, membuka tabir tentang perlakuan bangsa-bangsa Eropa dan AS terhadap suku asli wilayah tersebut.

Dalam kasus Greenland, penduduk asli yang diam di sana, Suku Inuit, adalah yang paling berhak menentukan nasib sendiri. Namun suku yang terbiasa dengan suhu dingin itu jarang ditampilkan ke publik.

Padahal selama bertahun-tahun di bawah kekuasaan Denmark, mereka mendapatkan perlakuan tidak manusiawi.

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pernah merilis sejumlah perlakuan tidak manusiawi tersebut, lewat laporan pemantau independen pelapor khusus PBB untuk hak-hak masyarakat adat, Jose Francisco Cali Tzay, pada 2023 silam.

Menurut laporan tersebut, Suku Inuit menghadapi hambatan untuk menikmati hak asasi manusia mereka sepenuhnya.

Perempuan disterilisasi secara paksa

"Saya sangat terkejut dengan kesaksian para wanita Inuit yang melaporkan bahwa penyedia layanan kesehatan Denmark telah memasang alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka . Beberapa dari mereka bahkan masih berusia 12 tahun," katanya .

Program Keluarga Berencana gaya Denmark ini bertujuan melaksanakan program pengendalian kelahiran yang agresif terhadap perempuan dan gadis Inuit di Greenland tanpa persetujuan atau sepengetahuan mereka.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kurun 1966 dan 1970, terdapat sekitar 4.500 alat kontrasepsi (IUD/spiral) dipasang pada perempuan dan gadis remaja Inuit, beberapa bahkan di bawah usia 12 tahun. Hal ini agar pertumbuhan populasi Inuit tidak banyak dan membatasi beban finansial sosial di Greenland.

Anak-anak Inuit dipaksa tinggal di Denmark

Program yang diberi nama "Little Danes" (1951) ini mengambil 22 anak Inuit dari keluarga mereka di Greenland untuk dibawa ke Denmark dengan tujuan menjadi "orang Denmark kecil" agar dapat kembali ke Greenland dan memimpin modernisasi dengan budaya Denmark, meninggalkan identitas Inuit. Dampaknya justru mereka jadi trauma dan kehilangan identitas diri.

Kekerasan, kemiskinan, dan bunuh diri

PBB juga melaporkan bahwa Greenland masih menghadapi berbagai tantangan sosial yang berkaitan dengan kemiskinan dan kurangnya perumahan yang layak, pendidikan berkualitas yang memadai, dan dukungan kesehatan mental yang langka, tambahnya.

"Diperkirakan sekitar 20 persen anak-anak di Greenland telah terpapar kekerasan dan pelecehan seksual," katanya, seraya menambahkan bahwa negara tersebut memiliki salah satu tingkat bunuh diri tertinggi di dunia.

Denmark minta maaf

Namun Denmark lewat Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, baru minta maaf secara secara resmi pada September 2025 lalu.

"Para perempuan terkasih. Keluarga terkasih. Greenland terkasih. Hari ini hanya ada satu hal yang benar untuk dikatakan kepada kalian. Maaf," ujar Frederiksen di hadapan para hadirin yang memadati pusat ibu kota Nuuk, seperti dikutip BBC, Kamis, 25 September 2025.

Frederiksen mengakui banyak perempuan mengalami trauma, komplikasi fisik, dan beberapa tidak dapat memiliki anak. Beberapa perempuan yang menjadi korban KB paksa itu, menerima maaf namun tidak menerima kompensasi sama sekali.

Elisa Christensen, misalnya, menganggap permintaan maaf Frederiksen sangat baik, tetapi merasa sedih karena tidak ada kompensasi dan omong kosong belaka.

(imf/bac)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VIDEO: Pertemuan Denmark, Greenland, dan AS

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK