Hide Ads

Presiden Iran Telepon MbS saat Kapal Induk AS Mangkal di Timteng

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 07:16 WIB
Presiden Iran Pezeshkian telepon Pangeran Saudi MbS usai kapal induk AS merapat ke Timteng, sebut Washington ancam stabilitas kawasan.
Pangeran Saudi MbS (kiri) dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kanan). Foto: AFP/-
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menelepon Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) setelah kapal induk Amerika Serikat (AS) tiba di Timur Tengah.

Pezeshkian mengatakan kepada MbS bahwa AS sedang melancarkan "ancaman" yang bertujuan mengganggu stabilitas kawasan.

"Presiden (Pezeshkian) menggarisbawahi tekanan dan permusuhan baru-baru ini terhadap Iran, yang meliputi tekanan ekonomi dan intervensi eksternal, dengan menyatakan bahwa aksi tersebut gagal melemahkan ketahanan dan kesadaran rakyat Iran," demikian pernyataan kantor Pezeshkian pada Selasa (27/1), seperti dikutip Al Jazeera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Percakapan telepon ini dilakukan di tengah kekhawatiran munculnya konflik baru antara AS-Israel dan Iran menyusul ketibaan kapal induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS mengindikasikan bahwa mereka sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap para demonstran.

Iran diguncang demo besar sejak 28 Desember buntut krisis ekonomi. Demo yang berubah jadi tuntutan perubahan rezim itu telah menewaskan lebih dari 3.000 orang, menurut perhitungan pemerintah.

Berdasarkan keterangan kantor Pezeshkian, MbS menyambut baik percakapan telepon tersebut. Sang Putra Mahkota juga menegaskan kembali komitmen Saudi terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan regional.

"Ia menekankan pentingnya solidaritas di antara negara-negara Islam dan menyatakan bahwa Riyadh menolak segala bentuk agresi atau eskalasi terhadap Iran," demikian pernyataan kantor Pezeshkian.

MbS turut menyampaikan kesiapan untuk membangun "perdamaian dan keamanan di seluruh kawasan."

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan armada kapal perang AS dikerahkan ke Timur Tengah "untuk berjaga-jaga". Namun, ia berharap USS Abraham Lincoln tak perlu digunakan mengingat situasi di Iran yang mulai mereda.

Meski begitu, Trump menegaskan Washington masih memantau ketat setiap perkembangan di Teheran, terutama mengenai program nuklir Iran.

Di masa lalu, AS secara berkala mengerahkan pasukan ke Timur Tengah saat ketegangan meningkat di kawasan tersebut. Pengerahan ini biasanya cuma bersifat defensif.

Kendati demikian, AS mengerahkan pasukan besar-besaran tahun lalu menjelang serangannya terhadap program nuklir Iran di bulan Juni.

Iran sudah menyatakan akan membalas jika serangan diluncurkan terhadap mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memengaruhi kawasan secara keseluruhan.

Ia juga menegaskan Iran saat ini "lebih siap dari sebelumnya" untuk merespons segala potensi serangan.

[Gambas:Video CNN]

(blq/dna)