Hide Ads

Survei Menunjukkan Trump Bahaya, Kenapa Banyak Kepala Negara Merapat?

CNN Indonesia
Kamis, 29 Jan 2026 06:00 WIB
Survei Pew Research Centre memperlihatkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagian besar menerima peringkat negatif.
Hasil survei Pew Research menunjukkan Presiden AS Donald Trump sangat berbahaya. (AFP/FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Survei Pew Research Centre yang dilakukan pada tanggal 8 Januari hingga 26 April 2025 memperlihatkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagian besar menerima peringkat negatif dalam survei yang melibatkan 24 negara.

Lebih dari separuh responden di 19 negara tersebut mengatakan mereka kurang percaya pada kepemimpinan Trump dalam urusan dunia.

"Ketika ditanya tentang karakteristik pribadi Trump, sebagian besar menggambarkannya sebagai sosok yang arogan dan berbahaya, sementara relatif sedikit yang melihatnya sebagai sosok yang jujur. Namun demikian, mayoritas di 18 negara menganggap Trump sebagai pemimpin yang kuat," demikian hasil survei tersebut yang sudah dirilis tahun lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, di sebagian besar negara, pandangan tentang Trump sangat berbeda berdasarkan garis ideologis dan partisan. Orang-orang yang menempatkan diri mereka di sayap kanan dan mereka yang memiliki pandangan positif terhadap partai-partai populis sayap kanan di Eropa cenderung memandang Trump lebih positif.

Secara keseluruhan, peringkat Amerika Serikat telah menurun di 15 negara sejak musim semi lalu, termasuk penurunan 20 poin persentase atau lebih di Meksiko, Swedia, Polandia, dan Kanada.

Mayoritas warga di Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Meksiko, Belanda, Spanyol, Swedia, dan Turki sama sekali tidak percaya pada Trump.

Kenapa banyak yang merapat?

Meski gaya kepemimpinan Trump tidak disukai, banyak pemimpin dunia tetap merapat seperti Indonesia. Misalnya dalam pembentukan Dewan Perdamaian untuk Gaza yang digagas dan dipimpin Trump.

Ada 19 negara dari 62 negara yang diundang telah menandatangani piagam dewan tersebut, tetapi gagal mendapatkan dukungan dari beberapa negara Eropa.

Masih berdasarkan hasil survei dan analisis global terbaru Pew Research Center 2024 dan laporan terkait sentimen ASEAN 2025), alasan banyak pemimpin dan negara merapat ke AS berakar pada kebutuhan ekonomi, keamanan, dan sentimen ketidakpastian terhadap pengaruh negara lain, terutama China.

[Gambas:Video CNN]

Tareq Masoud, Profesor Demokrasi dan Tata Kelola Ford Foundation di Sekolah Pemerintahan John F Kennedy Universitas Harvard memberi penjelasan, dengan menyatakan bagaimana "kehidupan orang-orang di seluruh dunia sangat terpengaruh oleh apa yang terjadi di Washington."

"Saya seorang akademisi Timur Tengah, dan dalam percakapan saya dengan orang-orang di dunia Arab tentang pemilihan ini, saya mengamati tingkat intensitas minat dan keprihatinan yang setara dengan apa pun yang mungkin Anda lihat di kampus ini atau di tempat lain di Amerika Serikat," kata Masoud.

Menurut Masoud, AS dikenal sebagai negara yang sangat diperlukan, terlibat secara mendalam dalam segala hal di mana pun.

"Terkadang untuk kebaikan, terkadang untuk keburukan. Atau akankah kita berpaling ke dalam? Akankah kita menarik diri di balik lautan luas yang memisahkan kita dari sebagian besar dunia dan menyerahkan dunia itu kepada campur tangan lembut Tiongkok atau pihak lain yang mungkin mencoba menggantikan peran Amerika?" ujar Masoud.

Studi dari Harvard juga menunjukkan, bagi sebagian orang, kepemimpinan Trump yang tidak konvensional merupakan peluang untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama. Bagi yang lain, ketidakpastiannya menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat memperdalam ketidakstabilan global dan meningkatkan ketegangan.

Perang Rusia-Ukraina dan perang Israel-Hamas bisa dibilang termasuk di antara isu-isu global yang paling mendesak, yang melibatkan hampir setiap negara sampai batas tertentu, terutama Amerika Serikat.

Tetapi isu-isu penting lainnya termasuk agenda kebijakan luar negeri, hak asasi manusia, kebijakan ekonomi, dan perjanjian perdagangan, hanya untuk menyebutkan beberapa.

Sampai saat ini, keunggulan ekonomi dan teknologi masih dianggap sebagai kekuatan utama dalam inovasi, teknologi, dan ekonomi yang stabil. Hal itu yang membuat para pemimpin dunia merapat ke Donald Trump.

(imf/bac)


[Gambas:Video CNN]