Hide Ads

Iran Tolak Negosiasi dengan AS di Tengah Ancaman Militer

CNN Indonesia
Rabu, 28 Jan 2026 21:30 WIB
Iran menolak melakukan perundingan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ancaman militer, pada Rabu (28/1).
Iran menolak melakukan perundingan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ancaman militer, pada Rabu (28/1). (Foto: iStock/Rainer Puster)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran menolak berunding dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ancaman militer, pada Rabu (28/1).

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah sikap Presiden AS Donald Trump yang tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Opsi tersebut dikaitkan dengan tindakan keras Iran terhadap para pengunjuk rasa, yang dinilai AS sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

"Menjalankan diplomasi dengan ancaman militer tidak akan efektif maupun bermanfaat. Jika mereka ingin negosiasi dapat terwujud, maka ancaman, tuntutan berlebihan, serta pengangkatan isu-isu yang tidak rasional harus ditinggalkan," ujar Araghchi setelah AS mengerahkan kapal induk ke kawasan itu, seperti dikutip AFP.

"Tidak mungkin membicarakan perundingan dalam suasana ancaman," tambah dia.

Araghchi juga menyebut tidak ada kontak dengan utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam beberapa hari terakhir dan menegaskan Iran tidak mencari negosiasi.

Ketegangan antara AS dan Iran terjadi akibat demo berdarah di Teheran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang, menurut klaim pemerintah Iran.

Sebelumnya, Trump mengancam untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran, beberapa bulan setelah AS mengebom fasilitas nuklir Iran dalam konflik singkat pada Juni lalu.

Sejak dua pekan lalu, kapal-kapal perang AS mulai bergerak dari kawasan Asia-Pasifik ke Timur Tengah.

Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS menyampaikan bahwa armada USS Abraham Lincoln telah berada di Timur Tengah "untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional."

"Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln saat ini dikerahkan ke Timur Tengah untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas kawasan," demikian pernyataan CENTCOM di X pada Senin (26/1).

Sementara itu, pihak Iran memperingatkan setiap serangan AS akan direspons dengan cepat dan menyeluruh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran saat ini "lebih siap dari sebelumnya" untuk merespons potensi serangan apa pun.

"Dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri dan pengalaman berharga di masa lalu, Iran lebih siap dari sebelumnya dan akan merespons secara komprehensif, tegas, dan patut disesalkan terhadap setiap potensi agresi," kata Baghaei dalam jumpa pers pada Senin (26/1), seperti dikutip Anadolu Agency.

Baghaei juga menegaskan kehadiran kapal perang AS di Teluk Persia tidak akan memengaruhi tekad Iran untuk membela diri.

"Kedatangan kapal perang semacam itu tidak akan memengaruhi tekad dan keseriusan Iran untuk membela bangsa," ujarnya, seperti dikutip AFP.

Ia mengatakan militer Iran kini mengawasi secara ketat setiap langkah yang diambil Washington. Baghael juga mengingatkan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip sistem internasional ini akan berdampak pada semua pihak.

(rnp/rds)


[Gambas:Video CNN]