Gertak Trump, Iran Pamer Terowongan Rudal Bawah Laut
Iran memamerkan jaringan terowongan rudal bawah laut saat ketegangan dengan Amerika Serikat meningkat.
Televisi pemerintah Iran baru-baru ini menyiarkan fasilitas rudal kapal selam Teheran, di mana deretan roket terlihat siap diluncurkan.
Dalam rekaman tersebut, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Alireza Tangsiri mengatakan pihaknya punya jaringan terowongan rudal yang luas di bawah laut, yang dikembangkan untuk menghadapi kapal-kapal AS di Teluk dan Laut Oman.
Tangsiri mengeklaim terowongan ini menyimpan ratusan rudal jelajah dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer.
Ia menambahkan rudal Qader 380L, yang punya jangkauan lebih dari 1.000 kilometer, telah dilengkapi sistem pemandu cerdas yang mampu melacak target hingga mengenai sasaran.
"Kemampuan kami terus berkembang," kata Tangsiri, seperti dikutip The New Arab, Rabu (28/1)
Terowongan rudal ini diungkap Iran setelah IRGC mengancam keamanan Selat Hormuz.
Wakil bidang politik pasukan angkatan laut IRGC Mohammad Akbarzadeh mengatakan Teheran saat ini telah mendominasi selat vital tersebut, baik di udara, laut, maupun bawah laut.
Seperti dikutip kantor berita Fars pada Selasa (27/1), Akbarzadeh menyatakan keamanan Selat Hormuz "bergantung pada keputusan yang diambil di Teheran".
Selat Hormuz merupakan jalur air strategis yang dilalui 21 juta barel minyak setiap hari, setara sekitar 37 persen konsumsi minyak global.
Akbarzadeh menyebut Iran mampu melacak kapal-kapal yang berlayar di bawah bendera mana pun di Selat Hormuz dengan menggunakan teknologi modern. Ia berujar Iran sepenuhnya siap berperang.
"Jika kami dipaksa berperang, maka respons kami akan lebih tegas dari sebelumnya," katanya.
Akbarzadeh menekankan kesiapan pertahanan Iran sudah sangat tinggi, terutama dalam pertahanan udara. Ia lantas memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayah mereka dipakai menyerang Iran, jika tak mau dianggap musuh oleh Teheran.
AS dan Iran sejak beberapa waktu lalu bersitegang. Ada kekhawatiran perang kembali meletus antara kedua negara seperti yang terjadi pada Juni tahun lalu.
AS awalnya berdalih mau menyerang Iran karena tindakan keras Teheran terhadap para pedemo. Iran dilanda demo besar sejak 28 Desember buntut krisis ekonomi.
Kini, AS menggunakan alasan program nuklir untuk menyerang Teheran.
Iran sejak awal sudah menyatakan siap berperang jika Washington ingin "menguji" kesiapan mereka.
Awal pekan ini, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dikabarkan telah tiba di Timur Tengah.
Per Selasa (27/1), Iran pun memulai latihan perang secara masif di Selat Hormuz. Pada waktu yang sama, AS juga mengumumkan rencana latihan Angkatan Udara besar-besaran di kawasan tersebut.
(blq/bac)