Uni Eropa Bakal Tetapkan IRGC Iran sebagai Organisasi Teroris

CNN Indonesia
Kamis, 29 Jan 2026 10:20 WIB
Ilustrasi. Negara-negara Eropa bakal tetapkan IRGC Iran sebagai organisasi teroris. Foto: AFP/-
Jakarta, CNN Indonesia --

Uni Eropa berencana menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris.

Reuters melaporkan bahwa para menteri luar negeri Uni Eropa dijadwalkan bertemu di Brussels pada Kamis (29/1) ini untuk menetapkan sanksi baru kepada Iran sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap para pedemo.

Demo berdarah Iran yang pecah sejak 28 Desember lalu telah menewaskan ribuan orang.

Langkah ini juga diambil setelah Prancis akhirnya setuju untuk mendukung Uni Eropa mengecap IRGC sebagai organisasi teroris. Prancis sebelum ini maju mundur karena takut keputusan tersebut berdampak pada hubungan diplomatik dan keamanan warga Paris di Teheran.

Dua warga Prancis saat ini tinggal di kedutaan besar Prancis di Teheran setelah dibebaskan dari penjara tahun lalu.

"Prancis akan mendukung penetapan IRGC sebagai organisasi teroris oleh Uni Eropa," kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot di X pada Rabu (28/1).

"Penindasan yang tak tertahankan terhadap aksi damai rakyat Iran tidak boleh dibiarkan begitu saja. Keberanian luar biasa yang mereka tunjukkan dalam menghadapi kekerasan membabi buta tidak boleh sia-sia," lanjut Barrot.

Selain Prancis, Italia dan Jerman juga telah menyatakan dukungan untuk menetapkan IRGC sebagai kelompok teroris. Dengan dukungan negara-negara tersebut, penetapan IRGC kemungkinan besar akan disetujui dalam pertemuan hari ini.

Meski begitu, Uni Eropa tetap butuh suara bulat untuk mengesahkan langkah tersebut.

IRGC dibentuk setelah Revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Badan ini ditujukan melindungi sistem pemerintahan ulama Syiah, dengan tanggung jawab utama di bidang pertahanan. IRGC telah ditugaskan mengelola program rudal balistik dan nuklir Iran.

[Gambas:Video CNN]

Penindakan aparat keamanan terhadap pedemo di Iran disebut-sebut telah jadi yang paling berdarah sejak Revolusi Islam 1979. Kelompok hak asasi manusia Iran yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, melaporkan 6.373 orang tewas dalam unjuk rasa.

Media independen Iran International sementara itu menyebut 36.500 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Pemerintah Iran, di sisi lain, mengeklaim 3.117 orang tewas dalam demonstrasi. Hingga saat ini, sulit memverifikasi jumlah kematian yang sebenarnya lantaran otoritas Iran masih memberlakukan pembatasan internet.

(blq/dna/bac)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK