Eks PM Iran Minta Rezim Khamenei Mundur: Mundurlah Dari Kekuasaan!
Mantan perdana menteri Iran, Mir Hossein Mousavi, mendesak rezim ulama yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei untuk mundur setelah apa yang ia sebut sebagai "kejahatan" berupa penindakan berdarah terhadap demonstran.
"Dengan bahasa apa lagi rakyat harus mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan sistem ini dan tidak mempercayai kebohongan Anda? Cukup sudah. Permainan ini selesai," kata Mousavi melalui pernyataan yang disebarkan melalui media Kalame miliknya pada Kamis (29/1).
Mousavi sendiri sejak 2011 berada dalam tahanan rumah. Ia ditahan setelah menentang rezim dan tokoh sentral gerakan protes massal pada 2009 yang dipicu sengketa hasil pemilihan presiden.
Mousavi mengklaim memenangkan pemilihan presiden 2009 melawan petahana Mahmoud Ahmadinejad dan menyatakan kemenangan tokoh garis keras itu direkayasa. Klaim tersebut memicu aksi unjuk rasa besar-besaran yang dikenal sebagai Gerakan Hijau.
Dalam pernyataannya terbarunya, Mousavi menyebut penindakan terhadap aksi protes berdarah sejak akhir Desember lalu sebagai "halaman hitam dalam sejarah bangsa kita" serta "pengkhianatan besar dan sebuah kejahatan".
Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah memverifikasi ribuan kematian selama demonstrasi berlangsung, namun khawatir total korban yang tewas akibat tindakan aparat keamanan bisa lebih banyak dari yang dilaporkan mencapai puluhan ribu orang.
Mousavi mengatakan rakyat Iran "tidak punya pilihan lain" selain kembali turun ke jalan, dan aparat keamanan "cepat atau lambat akan menolak memikul beban" untuk menekan gerakan tersebut.
"Turunkan senjata kalian dan mundurlah dari kekuasaan agar bangsa ini sendiri dapat memimpin negeri ini menuju kebebasan dan kesejahteraan," ujarnya seperti dikutip AFP.
Di tengah Washington yang tidak menutup kemungkinan serangan militer menyusul penindakan tersebut, Mousavi menyerukan digelarnya "referendum konstitusi" sekaligus menegaskan penolakannya terhadap "campur tangan asing".
Mousavi menjabat sebagai perdana menteri pada 1981-1989 di bawah kepresidenan Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian menjadi pemimpin tertinggi Republik Islam Iran setelah wafatnya pendiri revolusi Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Bahkan sejak dekade 1980-an, Khamenei telah lama dipandang sebagai rival Mousavi, dengan perdana menteri saat itu dianggap sebagai figur yang lebih moderat di dalam sistem.
Sebagai salah satu dari sedikit tokoh kunci pada 1980-an yang tidak berasal dari kalangan ulama, Mousavi merupakan perdana menteri terakhir Iran. Jabatan tersebut dihapus dalam konstitusi hasil revisi setelah wafatnya Khomeini.
(rds)