Diplomasi 'Jagoan' Trump Tekan Iran Pakai Ekonomi hingga Kapal Perang

CNN Indonesia
Minggu, 01 Feb 2026 23:30 WIB
Diplomasi jagoan ala Presiden AS Donald Trump. (AFP/SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan manuver militer ke Iran dengan mengirimkan sejumlah kapal perang ke Timur Tengah pada Rabu (28/1).

Pengerahan armada kapal perang ini dilakukan AS menyusul ancaman Presiden Donald Trump yang ingin menyerang Iran. Seorang pejabat Amerika Serikat menuturkan total jumlah kapal perang AS di kawasan per Rabu telah mencapai 10 kapal.

Dikutip AFP, jumlah ini hampir setara armada kapal perang yang AS kirim ke perairan Karibia saat hendak melancarkan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro awal Januari lalu.

Armada kapal perang AS yang sudah bertengger di Timur Tengah ini di antaranya terdiri dari armada kapal induk USS Abraham Lincoln yang mengangkut tiga jet penghancur dan jet siluman F-35C. Sekitar enam kapal perang seperti tiga kapal destroyer dan tiga kapal tempur yang sudah tiba di kawa

Tekanan militer

Menurut Umud Shokri, Peneliti dari Universitas George Mason, dalam laman iranintl.com menuliskan bahwa tindakan Donald Trump sebagai respon atas rezim Iran terhadap demonstrasi itu, tampaknya mencerminkan strategi diplomasi kapal perang: penggunaan tekanan militer, eskalasi retorika, dan paksaan ekonomi untuk mendapatkan konsesi tanpa berkomitmen pada perang atau perubahan rezim formal.

"Respons Trump bukanlah seruan formal untuk perubahan rezim atau langkah langsung menuju konflik militer. Sebaliknya, respons tersebut menggabungkan ancaman publik, penangguhan diplomasi, dan tekanan ekonomi dengan sinyal militer yang terlihat jelas, yang dirancang untuk meningkatkan biaya represi sekaligus mempertahankan fleksibilitas strategis," kata Shokri dalam tulisannya, Kamis (29/1) .

Sinyal tersebut menjadi lebih eksplisit pada hari Rabu, ketika presiden AS mendesak Iran untuk "segera 'Duduk di Meja Perundingan'" dan menegosiasikan kesepakatan. Ia memperingatkan bahwa "serangan berikutnya akan jauh lebih buruk" daripada serangan Juni lalu terhadap situs nuklir Iran jika kesepakatan tidak tercapai.

Strategi militer utama Trump adalah pengerahan kembali gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, yang memulihkan kapasitas serangan yang kredibel pada saat kepemimpinan Iran dilanda gejolak internal.

[Gambas:Video CNN]

Dikawal oleh beberapa kapal perusak dan membawa hampir 90 pesawat, termasuk F-35, Lincoln memberi Washington berbagai pilihan yang fleksibel-mulai dari serangan terbatas terhadap aset Garda Revolusi hingga operasi yang lebih luas.

Pesawat tempur AS tambahan, unit lapis baja, dan sistem pertahanan udara telah dipindahkan ke berbagai pangkalan regional, yang menggarisbawahi maksud yang ingin disampaikan. Tujuannya tampaknya adalah kesiapan tanpa komitmen.

Tujuan Trump adalah untuk mengeksploitasi posisi Iran yang melemah guna memaksa konsesi strategis-tidak hanya pada program nuklir dan rudal, tetapi juga pada aktivitas proksi regional Teheran. Tekanan itu diperkuat oleh usulan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran, yang diumumkan pada 12 Januari.

Pendekatan Washington tampaknya dirancang untuk mendorong negosiasi saat Teheran berada dalam kondisi paling rentan, tanpa memberikan komitmen eksplisit terhadap aksi militer atau perubahan rezim.

Trump ingin Iran berunding

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri sudah mengatakan akan melancarkan serangan yang jauh lebih brutal terhadap Iran jika Teheran menolak mencapai kesepakatan terkait program nuklir, Rabu (28/1).

Trump meminta Iran segera berunding dan memperingatkan bahwa AS akan melancarkan serangan lebih keras jika kesepakatan tidak tercapai.

"Semoga Iran segera 'Datang ke Meja Perundingan' dan bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang, TANPA SENJATA NUKLIR, yang menguntungkan semua pihak. Waktu terus berjalan, situasi sangat mendesak!" tulis Trump di media sosial, seperti dikutip Reuters.

"Serangan berikutnya akan jauh lebih parah! Jangan sampai itu terjadi lagi," tambah dia.

(imf/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK