AS Kembali Serang Kapal Dituduh Bawa Narkoba di Pasifik, 2 Tewas

CNN Indonesia
Jumat, 06 Feb 2026 15:35 WIB
AS kembali serang kapal yang dituduh bawa narkoba di Samudra Pasifik, dua orang tewas.
Ilustrasi. AS kembali serang kapal yang dituduh bawa narkoba di Samudra Pasifik. Foto: Reuters
Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terbaru terhadap sebuah kapal di wilayah Samudra Pasifik bagian timur dan menewaskan dua orang, pada Kamis (5/2).

"Dua terduga narco-teroris tewas dalam operasi tersebut," demikian pernyataan Komando Selatan AS (SOUTHCOM), yang mengawasi operasi militer AS di Amerika Latin, seperti dikutip Al Jazeera.

Namun, SOUTHCOM tidak menyertakan bukti yang mendukung klaim soal tuduhan kapal itu maupun kedua korban yang disebut terlibat dalam aktivitas perdagangan narkoba.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintahan Trump membela serangan itu dengan menyamakan perdagangan narkoba sebagai bentuk serangan bersenjata terhadap AS. Mereka juga menetapkan sejumlah kelompok kriminal narkotika sebagai organisasi "teroris."

Namun, para pakar hukum internasional, pegiat Hak Asasi Manusia (HAM), dan pemimpin kawasan menolak klaim AS itu. Mereka memperingatkan serangan itu merupakan pembunuhan di luar proses hukum dan tidak ada kondisi bersenjata yang dapat dijadikan dasar pembenaran.

Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk perlindungan HAM dalam upaya kontra-terorisme, Ben Saul, mengatakan penggunaan kekuatan militer laut merupakan hal yang salah.

"Tidak ada dasar hukum dalam hukum internasional yang membenarkan penggunaan kekuatan militer di laut lepas untuk membunuh terduga pengedar narkoba atau geng narkotika," kata Saul.

Sementara itu, keluarga pria Kolombia yang tewas dalam salah satu serangan itu membantah keterlibatannya dalam aktivitas kriminal, dengan menyatakan korban merupakan nelayan.

Keluarga Alejandro Carranza telah mengajukan pengaduan hukum ke Komisi Antarpemerintah Hak Asasi Manusia (IACHR). Namun, kelompok advokasi menilai upaya untuk meminta pertanggungjawaban pejabat AS akan menghadapi hambatan besar.

Pejabat pemerintahan Trump disorot karena laporan menyebut serangan pertama pada September lalu juga menewaskan penyintas yang berpegangan pada puing kapal. Media CNN turut melaporkan kapal itu sebenarnya menuju untuk bertemu kapal lain yang mengarah ke Suriname, bukan ke AS.

Serangan AS terhadap sejumlah kapal di Pasifik dan Karibia telah menewaskan sedikitnya 126 orang sejak September 2025, menurut kelompok pemantau Airwars.

SOUTHCOM terakhir kali melancarkan serangan terhadap kapal pada 23 Januari, yang menewaskan sedikitnya dua orang.

Dari total 126 korban tewas yang diakui militer AS, sebanyak 116 orang dilaporkan tewas di tempat, sementara 10 lainnya diduga meninggal setelah tidak ditemukan pasca serangan.

Serangan terbaru ini juga menambah jumlah korban tewas menjadi sedikitnya 128 orang. Secara keseluruhan, sekitar 38 kapal telah diserang dalam 36 operasi militer AS.

[Gambas:Video CNN]

(rnp/dna)