Pelajar Imigran Belajar dari Rumah Demi Hindari Diseret Petugas ICE

CNN Indonesia
Sabtu, 07 Feb 2026 22:40 WIB
Banyak pelajar dari masyarakat imigran di Minneapolis melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring gegara situasi yang tak kondusif.
Ilustrasi petugas federal AS memeriksa pemukiman warga Minneapolis. (AFP/CHARLY TRIBALLEAU)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak pelajar dan mahasiswa dari masyarakat imigran di Minneapolis kembali melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring gegara situasi yang tak kondusif akibat serbuan petugas imigrasi dan bea cukai (ICE).

Sejumlah pelajar bahkan sudah melakukan PJJ selama beberapa minggu terakhir, seperti Esmeralda, Kevin, dan Carlos. Mereka mengikuti PJJ dari sebuah unit apartemen yang disulap menjadi ruang kelas sederhana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika saya keluar, itu hanya di luar di lorong," kata Kevin yang berusia 12 tahun.

"Kelas lagi dan lagi. Kemudian kami makan siang dan kami tetap di sini di depan komputer untuk sementara waktu, mengerjakan lebih banyak pekerjaan dan pekerjaan rumah," kata Esmeralda yang berusia 14 tahun sambil mengenakan headphone di tengah pelajaran tentang fosil.

Mereka mengakui meja makan mereka menjadi ruangan kelas dan rumah sebagai bunker sebagai hal yang "aneh, menegangkan, dan membosankan".

"Kami bisa bertemu, tetapi kami tidak benar-benar bersama. Tidak sama rasanya [bertemu langsung dan] melakukan panggilan video," kata Kevin soal interaksinya bersama teman-temannya di sekolah.

PJJ kembali diterapkan untuk pertama kalinya di Minneapolis semenjak pandemi Covid-19 berakhir untuk masyarakat imigran karena mereka terpaksa tetap berada di rumah, menghindari deportasi massal dari Presiden Donald Trump.

Ibunda Kevin, Abril, juga memutuskan tak ada satu pun anak-anaknya yang akan meninggalkan rumah, semenjak sekolah menengah tempat Esmeralda belajar digerebek ICE sebulan lalu.

Keluarga mereka merupakan imigran asal Meksiko. Merea datang satu setengah tahun lalu untuk mencari suaka. Saat ini mereka masih menunggu keputusan hukum.

"Mereka bertanya mengapa ini terjadi atau mengapa, jika kami tidak melakukan kesalahan apa pun, kami bersembunyi, dan berapa lama ini akan berlangsung," kata Rigoberto, ayah dari Esmeralda, Kevin, dan Carlos, yang bekerja sebagai mekanik.

"Saat kami membaca bahwa mereka ada di dekat kami, kami mematikan TV dan berkata, 'Anak-anak, jangan berisik, anak-anak, diamlah,'" kata Abril.

Situasi polemik tersebut sudah berdampak lebih serius kepada Abril. Ia menjadi sulit tidur dan menjadi cemas bila akan keluar rumah barang untuk membuang sampah rumah tangga. Ia bahkan sudah menutup tirai jendela selama lima minggu.

Kondisi makin sulit setelah Abril dan Rigoberto sama-sama kehilangan pekerjaan mereka karena khawatir kena seret petugas ICE. Beruntungnya, tetangga mereka bersedia membantu belanja bahan makanan.

"Sebagai kepala keluarga, ini adalah sesuatu yang sangat, sangat sulit bagi saya untuk tidak dapat melakukan apa pun untuk mereka," kata Rigoberto.

"Kami memang bisa keluar rumah, tetapi segalanya tidak akan sama," kata Rigoberto. "Rasa takut akan selalu ada."

(afp/end)


[Gambas:Video CNN]