Ribuan Pendukung Hadiri Pemakaman Putra Muammar Khadafi, Saif Al Islam

CNN Indonesia
Sabtu, 07 Feb 2026 19:00 WIB
Pemakaman yang berlangsung pada Jumat (6/2) tersebut dilaksanakan di Bani Walid, kota yang berada sekitar 175 kilometer sebelah selatan Tripoli.
Ribuan orang hadiri pemakaman Saif Khadafi. (REUTERS/KHALED SULEIMAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan pendukung setia menghadiri pemakaman putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, Saif Al Islam, yang tewas ditembak mati oleh geng bersenjata tidak dikenal di rumahnya di Zintan.

Pemakaman yang berlangsung pada Jumat (6/2) tersebut dilaksanakan di Bani Walid, kota yang berada sekitar 175 kilometer sebelah selatan Tripoli.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hampir 15 tahun setelah Muammar Khadafi digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan yang didukung NATO pada 2011, ribuan pendukung setia hadir untuk berduka atas kematian putranya yang pernah dianggap sebagai calon penerus pemimpin sebelumnya.

Saif al-Islam tewas pada Selasa (3/2) di rumahnya di kota Zintan, barat laut Libya.

Dalam sebuah pernyataan, kantornya menyatakan bahwa ia tewas dalam "konfrontasi langsung" dengan empat penembak tak dikenal yang menerobos masuk ke rumahnya.

Kantor jaksa agung Libya mengatakan penyelidik dan dokter forensik memeriksa jenazah pria berusia 53 tahun tersebut dan menyatakan bahwa ia tewas akibat luka tembak. Sementara itu, kantor Saif Al Islam tengah berusaha mengidentifikasi tersangka.

Salah satu pendukung setia Khadafi yang menghadiri pemakaman tersebut adalah Waad Ibrahim, seorang wanita berusia 33 tahun dari Sirte, yang berjarak hampir 300 kilometer dari Bani Walid.

This aerial picture shows Libyans gathered for the funeral of Seif al-Islam Gaddafi, the son of Libya's late longtime ruler, in Bani Walid, in the Tripoli region, western Libya on February 6, 2026. Seif al-Islam, 53, the son of Libya's late longtime ruler, had been seen by some as his father's successor, despite being targeted by a warrant from the International Criminal Court for alleged crimes against humanity. He was killed on February 3, 2026, by gunmen who stormed his home in western Libya's Zintan, his French lawyer told AFP. (Photo by Mahmud Turkia / AFP)Pemakaman yang berlangsung pada Jumat (6/2) tersebut dilaksanakan di Bani Walid, kota yang berada sekitar 175 kilometer sebelah selatan Tripoli. (AFP/MAHMUD TURKIA)

"Kami di sini untuk mendampingi orang yang kami cintai, putra pemimpin kami yang kami harapkan dan masa depan kami," katanya, dikutip dari Aljazeera pada Jumat (6/2).

Lebih lanjut, Saif Al Islam pernah dijuluki sebagai perdana menteri de facto selama pemerintahan otoriter ayahnya yang berlangsung selama 40 tahun, meski ia tidak memegang jabatan resmi. Ia diketahui membangun citra sebagai sosok moderat dan reformis.

Menyebut diri sebagai reformis, ia memimpin pembicaraan tentang Libya yang menghentikan program senjata pemusnah massal dan menegosiasikan kompensasi bagi keluarga korban ledakan pesawat Pan Am Flight 103 di atas Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.

Namun, reputasi tersebut runtuh ketika ia mengancam akan "mengalirkan darah" sebagai respons terhadap pemberontakan pada 2011, yang mengakibatkan penangkapannya pada tahun yang sama berdasarkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Kriminal Internasional atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pada 2021, ia mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Namun, pemilu yang bertujuan untuk menyatukan negara di bawah perjanjian PBB ditunda tanpa batas waktu.

Hingga saat ini, Libya tetap terbelah antara pemerintah yang didukung PBB di bawah Perdana Menteri Abdul Hamid Dbeibah yang bermarkas di Tripoli dan administrasi timur yang didukung oleh Khalifa Haftar.

Pembunuhan Saif Al Islam, yang dianggap oleh banyak orang sebagai alternatif terhadap duopoli kekuasaan di negara tersebut, terjadi kurang dari seminggu setelah pertemuan pada 28 Januari di Istana Elysee Prancis, yang mempertemukan putra Haftar dan penasihat Dbeibah.

(loa/end)