Trump Ngotot Mau Ganti Rezim di Kuba

CNN Indonesia
Selasa, 10 Feb 2026 21:05 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membidik pergantian rezim di Kuba dengan menjajaki dukungan dari kalangan dalam pemerintahan Havana.
Presiden AS Donald Trump bersikeras mau ganti rezim di Kuba. (AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membidik pergantian rezim di Kuba dengan menjajaki dukungan dari kalangan dalam pemerintahan Havana.

Upaya itu disebut dilakukan melalui pencarian pejabat Kuba yang bersedia menjalin kesepakatan dengan Washington.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

The Wall Street Journal mengutip sejumlah pejabat AS anonim, melaporkan pada Rabu lalu pemerintahan Trump belum memiliki "rencana yang jelas" terkait Kuba.

Namun, penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS baru-baru ini disebut dijadikan contoh sekaligus peringatan bagi Kuba.

Seorang pejabat AS mengatakan pertemuan dengan diaspora Kuba dan kelompok masyarakat sipil digelar di Miami serta Washington, DC, untuk mencari pejabat Kuba yang mungkin "bersedia bernegosiasi".

"Saya sangat menyarankan mereka (Kuba) membuat kesepakatan, SEBELUM TERLAMBAT," tulis Trump di platform Truth Social, seperti dikutip Al Jazeera.

Pakar politik dan kebijakan luar negeri AS dari US Studies Centre Universitas Sydney, David Smith, menilai Gedung Putih "terlalu percaya diri" jika ancaman cukup untuk menjatuhkan pemerintahan Kuba.

Ia menegaskan, pemerintahan yang dipimpin Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel itu tidak mudah digulingkan hanya melalui tekanan verbal.

"Kami melihat di Iran baru-baru ini Trump tampak yakin ancaman yang kuat akan membuat pemerintah Iran menyerah," ujar Smith.

"Ia mendorong para demonstran dan menggambarkan rezim Iran sebagai rapuh, tetapi pada akhirnya rezim itu tetap cukup kuat, represif, dan bertekad mempertahankan kekuasaan," lanjut dia.

Menurut Smith, kondisi di negara seperti Kuba juga sulit dibaca oleh pihak luar, termasuk soal kekuatan riil pemerintah dan tingkat kesetiaan para pejabatnya.

Mantan pejabat pemerintahan Barack Obama, Ricardo Zuniga, menilai kepemimpinan Kuba akan menjadi tantangan yang jauh lebih berat dibanding Venezuela.

"Tidak ada sosok yang akan tergoda untuk berpihak pada AS," kata Zuniga kepada The Wall Street Journal.

Upaya menjatuhkan kepemimpinan Kuba telah lama menjadi ambisi banyak politis AS sejak Revolusi 1959 yang membawa Fidel Castro berkuasa.

Gagal gulingkan Castro

AS pernah gagal menggulingkan pemerintahan Kuba dalam Invasi Teluk Babi pada 1962. CIA juga berulang kali mencoba membunuh Castro.

Sementara pasukan Bolivia dengan dukungan AS mengeksekusi Ernesto "Che" Guevara pada 1967.

Kuba hanya berjarak sekitar 150 kilometer dari Florida Selatan, dan ratusan ribu warganya telah bermigrasi ke AS dengan alasan tekanan ekonomi dan politik.

Komunitas diaspora Kuba di AS merupakan kekuatan politik penting dan mencakup sejumlah pejabat senior pemerintahan Trump.

Salah satunya adalah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang dikenal sebagai pengkritik keras pemerintah komunis Kuba.

(rnp/bac)


[Gambas:Video CNN]