Kronologi Upaya Pembunuhan Presiden Kolombia Petro oleh Kartel Narkoba
Presiden Kolombia Gustavo Petro mengeklaim lolos dari upaya pembunuhan setelah helikopternya gagal mendarat akibat ancaman penembakan di pesisir Karibia, Selasa (11/2).
Ia mengaku selama berbulan-bulan telah menerima peringatan tentang dugaan rencana para pengedar narkoba untuk menargetkannya.
Melansir situs France24, pada Senin malam, helikopter yang ditumpangi Petro batal mendarat di tujuan di kawasan pantai Karibia.
Pembatalan itu terjadi karena muncul kekhawatiran sejumlah pihak tak dikenal akan melepaskan tembakan ke arahnya.
"Malam itu, saya tidak bisa mendarat karena saya diberitahu mereka akan menembak helikopter yang saya tumpangi bersama kedua putri saya," ujar Petro, menurut laporan penyiar publik Radio Nacional de Colombia, dikutip Al Jazeera.
"Mereka tidak menyalakan lampu di tempat saya seharusnya mendarat," tambah dia.
Dalam pertemuan Dewan Menteri di Córdoba, Petro mengatakan ia harus mengubah rencana perjalanannya secara mendadak akibat ancaman terhadap keselamatannya.
"Saya sedang berusaha lolos dari upaya pembunuhan. Itu sebabnya saya tidak bisa tiba tepat waktu tadi malam karena saya tidak bisa mendarat di tempat yang saya katakan," ujar Petro.
Lihat Juga : |
Kemudian, Petro terbang menggunakan helikopternya dengan bantuan angkatan laut Kolombia, berhasil mendarat meski di lokasi lain.
"Kami terbang ke laut lepas selama empat jam dan saya tiba di suatu tempat yang seharusnya tidak kami datangi, lolos dari maut," kata Petro dalam rapat kabinet.
Pernyataan Petro muncul di tengah meningkatnya kekerasan pemilihan presiden di negara yang selama puluhan tahun dilanda konflik antara gerilyawan dan kelompok bersenjata lain.
Meski secara konstitusi tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, Petro menuding sebuah jaringan narkoba telah mengincarnya sejak menjabat pada Agustus 2022.
Konspirasi yang diduga itu disebut melibatkan bos narkoba dan panglima perang seperti Ivan Mordisco.
Ia merupakan pemimpin kelompok pembangkang terbesar yang memisahkan diri dari gerilyawan FARC setelah perjanjian damai 2016 yang mengharuskan pelucutan senjata.
Kolombia sendiri memiliki sejarah panjang pembunuhan terhadap tokoh kiri, termasuk kandidat presiden.
Petro, yang merupakan presiden sayap kiri pertama negara itu, juga dilaporkan pernah menghadapi percobaan pembunuhan lain pada 2024.
(rnp/bac)