Makin Tegang, Jepang Sita Kapal Ikan China kala Beijing Boikot Tokyo

CNN Indonesia
Jumat, 13 Feb 2026 20:25 WIB
Foto ilustrasi: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Jakarta, CNN Indonesia --

Jepang menyita sebuah kapal penangkap ikan China dan menahan kaptennya pada Jumat (13/2), dalam insiden yang berpotensi semakin memperkeruh hubungan kedua negara yang sedang tegang.

Badan perikanan Jepang menyatakan kapal itu telah diperintahkan berhenti untuk pemeriksaan tetapi tidak mematuhi dan melarikan diri.

"Akibatnya, kapten kapal ditangkap pada hari yang sama," kata lembaga itu dalam pernyataan, dikutip AFP.

Pihak Jepang menyatakan kapal itu berada di dalam zona ekonomi eksklusifnya, sekitar 89,4 mil laut di selatan-barat daya Pulau Meshima di Kepulauan Goto. Wilayah itu disebut bukan area sengketa.

Kapten kapal diidentifikasi sebagai warga negara China Zheng Nianli (47). Namun, status 10 orang lain di kapal bernama Qiong Dong Yu belum jelas.

"Kami akan terus mengambil tindakan tegas untuk mencegah operasi penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing," kata juru bicara utama pemerintah Minoru Kihara.

Tokyo menegaskan akan terus mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing.

China segera merespons penyitaan itu dengan mendesak Jepang untuk melindungi hak awak kapal China.

"Kami berharap Jepang secara ketat menghormati perjanjian perikanan China-Jepang, menegakkan hukum secara adil, serta melindungi keselamatan dan hak serta kepentingan sah awak kapal China," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers Jumat.

Peristiwa ini terjadi di tengah perselisihan wilayah yang telah lama berlangsung antara kedua negara, termasuk ketegangan berulang di sekitar Kepulauan Senkaku.

Penangkapan kapten kapal nelayan China di kawasan itu pada 2010 pernah memicu krisis diplomatik besar.

Hubungan kedua negara juga memanas akibat isu Taiwan. Perdana Menteri Sanae Takaichi sebelumnya menyatakan Jepang dapat mengambil tindakan militer jika Beijing menggunakan kekuatan untuk menguasai pulau itu.

China menganggap Taiwan sebagai bagian wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk merebutnya lagi.

Pernyataan Takaichi itu pun sampai membuat China murka dan memboikot sejumlah komoditas Jepang ke negaranya.

Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te bahkan turut memperingatkan negara-negara lain seperti Jepang dan Filipina dapat menjadi target berikutnya jika Beijing mengambil alih pulau itu.

"Negara berikutnya yang terancam adalah Jepang, Filipina, dan negara lain di kawasan Indo‑Pasifik, dengan dampak yang akhirnya menjangkau Amerika dan Eropa," kata Lai.

Di tengah ketegangan itu, Takaichi menegaskan Jepang akan memperkuat pertahanan dan melindungi wilayahnya, meski tetap membuka peluang dialog dengan Beijing.

Namun China menegaskan dialog harus didasarkan pada saling menghormati dan menuntut Jepang menarik pernyataan terkait Taiwan.

(rnp/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK