Australia Larang Warganya yang Ditahan di Suriah Terkait ISIS Pulang
Australia melarang salah satu warganya kembali ke tanah air dari kamp penahanan di Suriah karena dugaan keterlibatan dengan ISIS, pada Rabu (18/2).
Orang itu termasuk dalam kelompok 34 perempuan dan anak-anak Australia yang ditahan di Kamp Roj dan diduga terkait ISIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menyusul saran dari badan keamanan, saya dapat mengonfirmasi satu individu dalam kelompok ini telah diterbitkan perintah pengecualian sementara," kata Menteri Dalam Negeri Tony Burke dalam pernyataan kepada AFP.
"Saat ini, badan keamanan belum memberikan rekomendasi anggota lain dalam kelompok itu memenuhi syarat hukum untuk perintah larangan sementara," tambah dia.
Menteri memiliki wewenang untuk mengeluarkan perintah pengecualian sementara hingga dua tahun untuk mencegah aktivitas teror atau kekerasan bermotif politik.
Menurut seorang pejabat Kurdi, kelompok warga Australia itu dibebaskan dari kamp pada Senin, tetapi gagal mencapai ibu kota Damaskus karena koordinasi buruk dengan otoritas Suriah.
Perdana Menteri Anthony Albanese menegaskan pemerintah menolak memfasilitasi repatriasi perempuan dan anak-anak itu.
"Kalau membuat keputusan sendiri, harus bertanggung jawab atas konsekuensinya," ujarnya.
Ia menuduh kelompok itu menganut ideologi yang berupaya menghancurkan dan merusak cara hidup kita.
"Kami tidak melakukan apa pun untuk memulangkan atau membantu orang-orang ini," kata Albanese kepada wartawan pada Rabu.
"Memang disayangkan anak-anak terjebak dalam situasi ini. Itu bukan keputusan mereka, melainkan keputusan orang tua atau ibu mereka," tambah dia.
Pada 2023, organisasi kemanusiaan Save the Children Australia mengajukan gugatan atas nama 11 perempuan dan 20 anak di Suriah untuk meminta repatriasi.
Namun, Pengadilan Federal menolak tuntutan itu, karena pemerintah Australia tidak mengendalikan penahanan mereka di Suriah.
(rnp/rds)[Gambas:Video CNN]


