Akhir Tragis Khamenei, Imam Iran yang Dilabel Pahlawan hingga Tiran

CNN Indonesia
Minggu, 01 Mar 2026 10:40 WIB
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas terbunuh AS dan Israel pada Sabtu (28/2).
Akhir traggis Ayatollah Ali Khamenei. (REUTERS/Ho New)

Khamenei lahir di kota suci Syiah Mashhad pada 1939. Dia anak dari pemimpin Muslim terkemuka dan etnis Azerbaijan dari negara tetangga Irak.

Keluarga Khamenei pertama kali menetap di Tabriz sebelum pindah ke Mashhad.

Ibunya, Khadijeh Mirdamadai, adalah sosok yang tekun membaca Al Quran dan buku. Dia juga mendukung anaknya melawan pemerintahan dinasti Pahlavi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khamenei memulai pendidikan di usia empat tahun. Ia mempelajari Al-Quran, dan menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah Islam pertama di Mashhad.

Ia tak menyelesaikan sekolah menengah atas, melainkan lanjut di sekolah teologi dan belajar dari ulama Islam terkemuka pada masanya, seperti ayahnya, dan Syekh Hashem Ghazvini. Pada tahun-tahun berikutnya, ia melanjutkan studinya di pusat-pusat pendidikan tinggi Syiah yang lebih bergengsi di Najaf dan Qom.

Di Qom, Khamenei belajar dari dan menjalin hubungan dekat dengan sejumlah ulama Muslim terkenal termasuk Ayatollah Khomeini, yang populer di kalangan seminaris muda karena penolakan dan perlawanan dia terhadap Shah Pahlavi.

Setelah lulus, Khamenei mengajar mata kuliah yurisprudensi dan kelas interpretasi teologi publik. Ia juga ikut menenatang pemerintahan Pahlavi dan menjadi aktivis.

Sebagai seorang aktivis, Khamenei berulang kali ditangkap polisi rahasia Shah (SAVAK) dan dijatuhi hukuman pengasingan di kota terpencil Iranshahr. Namun, ia bisa kembali dan ikut protes yang menyebabkan pemerintahan Pahlavi berakhir.

(isa/bac)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2