Bara Konflik Iran-Gaza: AS Pilih Presidennya, Dunia Kena Getahnya
Perang di Iran dan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei adalah kebrutalan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Iran digempur habis-habisan oleh rudal milik Amerika Serikat dan sekutu utamanya, Israel.
Serangan ke Iran ini dilakukan setelah sebelumnya sejumlah perilaku di luar nalar dilakukan Trump. Dari mulai melindungi aksi biadab genosida Israel di Gaza hingga menculik presiden negara lain (Nicolas Maduro) atas tuduhan yang dibuat-buat dan demi minyak Venezuela.
Donald Trump memang hanya dipilih 349 juta warga AS. Namun yang merasakan getahnya justru warga negara lain dari mulai Gaza, Venezuela dan kini terbaru Iran. Ini belum termasuk warga negara lain yang ikut merasakan dampak global konflik tersebut.
Termasuk potensi warga negara lain yang diancam bakal "diinvasi" Trump seperti Kuba, Greendland, Meksiko, Kanada hingga Panama.
Kembali ke Iran. Apa salah Iran dan Khamenei selaku pimpinan tertingginya?
Punya senjata nuklir?
Dari beberapa negara yang punya nuklir, termasuk AS sendiri, kenapa hanya Iran yang diusik?
Apa karena memang hanya Iran yang tidak mau menuruti kemauan Trump? Atau hanya nuklir Iran yang paling berpotensi dipakai melawan AS dan Israel?
Perlu diingat, saat menggulingkan Saddam Hussein dari kursi kepemimpinan Irak di 2003, tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal juga jadi alasan. Namun ternyata hal tersebut tak pernah terbukti.
Atau sama seperti Venezuela, Iran punya minyak melimpah?
Iran berada di posisi ketiga dengan cadangan minyak terbesar di Dunia setelah Venezuela yang sudah dikuasai Trump, dan Arab Saudi yang selama ini dekat dengan AS.
Atau karena Iran yang selama ini paling berani pada Israel?
Beberapa bulan lalu, Iran terbukti memberikan kerusakan berarti pada Israel setelah mereka diserang lebih dulu. Serangan Israel saat ini juga sudah dibayar 'tunai' oleh Iran dengan menyerang sejumlah wilayah.
Kalau memang Khamenei dianggap tidak adil dalam memimpin Iran, apa urusan Trump mencampuri urusan dalam negeri negara lain? Sementara Trump juga masih kerap diprotes warganya soal kebijakan imigrasi.
Kalau memang tuduhan Trump pada Khamenei benar, dia bukan penjahat perang. Bukan pelaku genosida pembantai anak-anak, atau buronan Mahkamah Internasional (ICC) seperti teman dekat Trump, Netanyahu.
Kalau memang Trump merasa dirinya polisi internasional, penjaga perdamaian dunia, mengapa dia diam saja dan malah mendukung aksi biadab Netanyahu di Gaza yang sudah membantai puluhan ribu orang termasuk anak-anak, bahkan malah terus menyokong senjatanya.
Trump juga dia saja saat bom terus diledakkan di Gaza, termasuk bom termobarik yang membuat korban menguap hilang. Aksi penyerangan di Gaza pada warga sipil ini terus terjadi sampai saat ini saat gencatan senjata disepakati.
Board of Peace yang dibuatnya hingga saat ini juga belum bisa membuat warga Gaza tenang dan masih di bawah bayang-bayang serangan Israel.
Tak cuma di Gaza, Trump juga diam saja saat Netanyahu itu terus meluaskan permukiman Yahudi di Tepi Barat atau membatasi ibadah muslim di Masjidil Aqsa, Yerusalem.
Jika memang berniat menghentikan kebiadaban Israel atas nama kemanusiaan Trump mestinya sejak awal bisa menyetop dukungan ke Netanyahu, bukan malah terus mendukungnya secara penuh.
Dan kini, yang dibunuh dan diserang malah warga Iran dan pemimpinnya. Serangan yang dilancarkan dengan penuh kebanggaan bak seorang pahlawan.
Serangan yang tak cuma menewaskan Khamenei dan para pejabat Iran, namun juga ratusan siswa sekolah dasar yang tengah belajar. Padahal AS dan Israel kerap membanggakan senjata canggih mereka yang bisa persis menargetkan serangan.
Peran PBB
Di era Trump pula Amerika Serikat seperti tak menganggap PBB ada. AS kerap memveto keputusan PBB yang dianggap menguntungkan Palestina dan merugikan Israel.
Berbagai desakan PBB juga seolah tak didengar. Trump seolah merasa tak ada hukum internasional yang menghalanginya.
Seperti diberitakan New York Times, Trump jelas mengatakan ia tak butuh hukum internasional. Hal ini dilontarkan Trump menjawab pertanyaan soal serangan Amerika Serikat ke Venezuela dan rencana aneksasi wilayah negara lain.
Ia mengatakan ada satu hal yang membatasinya yakni moralitasnya sendiri.
Pertanyaanya, apakah Trump punya nilai moral atau di mana batas nilai moralnya? Keterlibatan dalam skandal Jeffrey Epstein dan tak berani menghentikan genosida di Gaza adalah bukti sahih, standard moral Trump memang sangat rendah. Sebelum tertutup pemberitaan serangan ke Iran, kasus Epstein di mana Trump terlibat bisa dibilang mendominasi dan mengejutkan publik.
Dengan tabiat Trump, Iran mungkin bukan yang terakhir. Greenland yang jadi bagian Denmark (anggota Nato sama dengan AS), Kanada, atau Kuba dan wilayah-wilayah lain bisa jadi bakal menyusul.
Kalau PBB saja tidak digubris, entah siapa yang didengar Trump. Yang jelas bukan nurani atau moralnya.
Lalu di mana negara-negara lain yang selama ini dianggap sebagai penyeimbang: Rusia dengan Vladimir Putin nya dan China dengan Xi Jin Ping nya? Entahlah.
Konflik besar Timur Tengah
Serangan ke Iran yang pasti bakal memunculkan konflik baru di Timur Tengah. Bukan mengakhiri seperti yang selama ini digembor-gemborkan Trump. Konflik juga sudah terbukti meluas karena rudal-rudal Iran menyasar pangkalan militer AS di beberapa negara teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain hingga Arab Saudi.
Kilang minyak terbesar di Timteng milik Arab Saudi juga diserang. Selat Hormuz sebagai jalur utama pasokan minyak Timteng juga sudah ditutup. Tiga kapal yang nekat melintas ditembaki.
Ini juga bakal memicu serangan balasan negara-negara sekutu AS ini ke Iran dan ikut mengeroyoknya. Sejumlah negara Timur Tengah yang juga sekutu AS sudah mengatakan akan membalas Iran. Prancis, Inggris, hingga Jerman juga siap angkat senjata membantu AS.
Hal yang ditakutkan tentu jika nuklir mulai dipakai dalam perang. Tak bisa dibayangkan juga kalau benar Iran punya senjata nuklir dan menggunakannya. Mungkin benar Perang Dunia 3 bakal pecah dan jadi bencana global.
Belum lagi imbas ke ekonomi global terutama harga minyak. Iran adalah salah satu negara dengan cadangan minyak yang besar.
Data yang dirilis OPEC menyebut cadangan minyak Iran sebanyak 208,6 miliar barrel. Jumlah ini berada di posisi 3 dunia setelah Venezuela (303,2 miliar barrel) yang dikuasai Trump saat ini, dan Arab Saudi 267,2 miliar barrel.
Hal yang langsung terasa adalah terganggunya penerbangan di Timur Tengah imbas penutupan ruang udara akibat perang ini. Iran juga sudah menutup jalur transportasi minyak Selat Hormuz yang dikuasainya. Harga minyak dunia tentu dipastikan bakal naik.
Mungkin Trump seperti Netanyahu, tak bisa melihat dunia ini baik-baik saja.
(sur/har)