'Pengganti' Khamenei Ogah Negosiasi dengan AS, Perang Bakal Panjang?

CNN Indonesia
Senin, 02 Mar 2026 13:45 WIB
Iran menegaskan tidak akan kembali ke meja perundingan soal nuklir setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke negaranya.
Iran menegaskan tidak akan kembali ke meja perundingan soal nuklir setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke negaranya. (Foto: AFP/ANWAR AMRO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran menegaskan tidak akan kembali ke meja perundingan soal nuklir dengan Amerika Serikat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke negaranya hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akhir pekan lalu.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menegaskan negaranya tak akan melanjutkan negosiasi dengan AS usai kematian Khamenei.

"Kami tidak akan negosiasi dengan Amerika Serikat," kata Larijani dalam unggahan di X, Senin (2/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan Larijani dilontarkan merespons sejumlah laporan media yang mengindikasikan Iran mengontak AS melalui perantara untuk meminta melanjutkan negosiasi nuklir.

AS dan Iran sebelumnya dalam putaran ketiga pembicaraan nuklir namun belum ada kesepakatan, Israel dan AS malah meluncurkan serangan seperti tahun lalu.

Larijani menegaskan tak akan ada negosiasi lagi dengan AS. Presiden AS Donald Trump menurutnya telah "menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan" dan sekarang justru ketar-ketir mengkhawatirkan nasib para tentara AS di Timur Tengah.

"Dengan tindakan delusionalnya, dia telah mengubah slogan 'America First' buatannya jadi 'Israel First' dan mengobarkan tentara-tentara Amerika hanya demi upaya Israel meraih kekuasaan," tambahnya.

AS dan Israel menyerang Iran sejak Sabtu (28/2) lalu. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya, termasuk Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh.

[Gambas:Video CNN]

Ratusan orang juga tewas karena gempuran tersebut mengenai kawasan sipil, yakni sekolah.

Tak lama setelah diserang, Iran meluncurkan serangan balasan dan menargetkan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Setidaknya ledakan dan kepulan asap dilaporkan di sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Irak.

Seiring kematian para petinggi Iran termasuk Khamenei,satu sosok lamadi jajaran kepemimpinan Iran kini semakin dominan muncul ke pusat kekuasaan di Teheran. Sosok itu ialah Larijani.

Di balik pintu tertutup dan jauh dari sorotan publik,Larijani tampil sebagai figur yang mengendalikan keputusan politik, militer, dan diplomatik paling sensitif Iran di tengah salah satu periode paling berbahaya yang dihadapi negara itu dalam beberapa dekade terakhir.

Di masa-masa krusial ini, Larijani dipandang sebagai sosok yang menggantikan sementara kekosongan pemimpin tertinggi Iran.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei untuk sementara diperkirakan akan memandu pemerintahan negara tersebut. Namun, Pezeshkian disebut-sebut telah tersisih sepanjang setahun terakhir.

Larijani pun dipandang sebagai figur kunci di Iran saat ini. Mengingat ketidakpastian mengenai arah selanjutnya, ada kemungkinan sosok tertentu akan mengambil peran dari balik layar.

Media Rudaw di Irak mencatat bahwa "Konstitusi Iran tidak secara eksplisit mengatur skenario pembunuhan pemimpin tertinggi. Sebaliknya, konstitusi menetapkan mekanisme pemilihan pengganti jika terjadi kematian, pengunduran diri, pemecatan, atau ketidakmampuan menjalankan tugas."

"Berdasarkan Pasal 107 Konstitusi Republik Islam Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli, yang juga memiliki kewenangan untuk memberhentikannya. Seorang kandidat harus memperoleh dukungan dua pertiga suara anggota majelis untuk dapat ditetapkan."

Terlepas dari mekanisme formal tersebut, berbagai laporan mengisyaratkan bahwa Larijani mungkin memegang kendali kekuasaan dari balik layar.

Menurut laporan The New York Times, "di tengah ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, muncul spekulasi bahwa Ali Larijani dapat memainkan peran sentral dalam setiap perubahan rezim di Iran."

Dalam laporannya, NYT menyebut Khamenei tampaknya telah merampungkan strategi untuk memastikan kelangsungan Republik Islam jika ia lengser. Larijani (67) disebut mendapat mandat untuk menjalankan tanggung jawab tersebut dan berpotensi mengambil alih kendali negara.

 

(blq/rds)


[Gambas:Video CNN]