ANALISIS

'Dikeroyok' AS-Israel, Kenapa Iran Masih Bisa 'Gagah' Balas Serangan?

Riva Dessthania S | CNN Indonesia
Kamis, 05 Mar 2026 07:30 WIB
Iran masih mampu bertahan hingga melancarkan serangan balasan meski sudah digempur serangan AS-Israel hingga menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei.
Ilustrasi. (Foto: STRINGER / AFP)

Struktur baja rezim ulama

Yon bahkan menilai kematian Khamenei tidak membuat Iran gentar menghadapi gempuran Israel dan AS. Sebab, struktur politik dan pemerintahan Iran yang matang dan kuat membuat negara itu masih bisa bergerak sesuai roda pemerintahan meski para pemimpinnya gugur oleh musuh.

Iran, kata Yon, sudah sering menghadapi upaya pembunuhan para pemimpin militer dan tokoh-tokoh penting lainnya oleh musuh. Hal itu menyebabkan Iran sudah terbiasa dengan mekanisme kontingensi yang rapih ketika mengalami kondisi serupa.

"Yang kedua tidak masuk perhitungan AS adalah berkaitan dengan struktur politik Iran yang ternyata pimpinan Ayatollah ini tidak mudah untuk bisa dihancurkan walaupun pemimpin tertingginya meninggal. Saya kira aspek struktur politik Iran tidak betul dipahami dengan baik oleh AS-Israel," kata Yon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Ancaman pembunuhan) tidak menggoyahkan mereka (Iran) karena sudah siap dengan risiko yang dihadapi--bahwa siapa pun yang masuk dalam pucuk pemimpin Iran sewaktu-waktu bisa terbunuh," paparnya menambahkan.

Hal serupa juga dikatakan Sya'roni. Ia menuturkan Iran memiliki struktur politik "yang unik" sehingga tahan guncangan.

Sya'roni menilai kematian Khamenei tentu memberikan pengaruh dalam internal pemerintahan Iran yang sadar bahwa masih banyak lubang intelijen dan pertahanan hingga rawan menjadi sasaran operasi intel.

"Tetapi di sisi lain, wafatnya Khamenei menjadi pemicu menguatnya semangat perlawanan di Iran dan sekitarnya (sekutunya)," papar Sya'roni.

Tangan-tangan 'tersembunyi' bantu Iran

Yon menuturkan meski sejauh ini Iran terlihat menghadapi gempuran AS-Iran "sendirian", sekutu dekatnya seperti Rusia dan China tetap menyokong Teheran secara tidak langsung.

Sejauh ini, China dan Rusia memang tidak secara gamblang menyatakan dukungan terhadap Iran secara militer. Namun, kedua negara sekutu Teheran itu sudah mengecam serangan AS-Israel ke Iran.

Beijing juga menilai serangan gabungan Israel-AS "pelanggaran nyata dan serius terhadap kedaulatan serta keamanan Iran."

Sejumlah pihak, terutama dari Barat, bahkan menilai Rusia dan China pada akhirnya tak bisa berbuat banyak dan tetap menjaga jarak untuk tidak terlibat konflik langsung dengan AS dalam hal mendukung Iran.

Meski sebagian analis menafsirkan ketiadaan intervensi militer langsung dari Rusia atau China sebagai bentuk pengabaian terhadap Iran, pandangan tersebut dinilai mengabaikan realitas strategis yang lebih mendalam.

Selama bertahun-tahun, Moskow dan Beijing telah bertransformasi dari sekadar mitra diplomatik menjadi "jangkar teknologi" Teheran.

Rusia dan China semakin berperan sebagai "mata" bagi Iran dengan menyediakan aset strategis berteknologi tinggi, mulai dari pengawasan hingga sistem pemandu rudal canggih. Kerja sama ini meningkat pesat setelah eskalasi regional pada 2025 yang kerap disebut sebagai "Perang 12 Hari" Iran vs Israel.

Rusia selama ini banyak memasok perangkat keras militer berat serta kemampuan pengintaian orbit khusus seperti satelit mata-mata Khayyam, jet tempur Su-35, sistem pertahanan udara berlapis S-400, hingga radar Rezonans-NE.

Sementara itu, dikutip Defense and Security Monitor, China banyak memasok intelijen dan pemandu ke Iran seperti sistem navigasi BeiDou-3, rudal supersonik CM-302, hingga radar anti-siluman YLC-8B ke Iran.

"Memang mereka (China dan Rusia) tidak secara langsung mendeklarasikan bahwa mendukung bersama Iran dalam perang, tapi tentu tidak bisa dipungkiri bahwa bantuan teknologi dari China, kemampuan untuk jamming, teknologi IT, dan sebagainya yang berkaitan dengan AI itu kan juga banyak di-support China, kemudian teknologi rudal itu kan juga banyak berasal dari Rusia," ucap Yon.

Meski begitu, Yon juga menilai Rusia dan China tidak akan secara gamblang menyatakan dukungan strategis ke Iran untuk melawan AS-Israel, apalagi ikut turun tangan ke medan perang.

(rds)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2