Fakta-fakta Hari ke-8 Perang Iran vs AS-Israel

CNN Indonesia
Minggu, 08 Mar 2026 08:10 WIB
Perang panas antara Iran vs Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memasuki hari kedelapan pada Minggu (8/3). (Amirhossein Khorgooei/ISNA/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perang panas antara Iran vs Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memasuki hari kedelapan pada Minggu (8/3). Rentetan serangan udara masih terjadi, dengan kapal-kapal tanker di Selat Hormuz menjadi korban.

Berikut fakta terkini perang Iran vs AS-Israel per Minggu (8/3).

1. Kapal berbendera Malta diserang IRGC

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang sebuah kapal tanker minyak berbendera Malta, Prima, di kawasan Teluk Persia pada Sabtu (7/3).

IRGC menyatakan pihaknya menembak kapal tersebut lantaran kapal "mengabaikan peringatan berulang dari Angkatan Laut mengenai larangan melintas dan kondisi Selat Hormuz yang tidak aman".

Iran telah melancarkan serangan ke sejumlah kapal tanker yang dicap terkait AS dan sekutu di Selat Hormuz sejak perang pecah 28 Februari lalu.

Saat ini, Iran menutup Selat Hormuz dan mengancam akan menyerang siapa saja yang melintas. Meski begitu, Iran menjamin keamanan bagi kapal-kapal sekutunya, China dan Rusia.

2. Tugboat berbendera UEA meledak-tenggelam di Selat Hormuz, 3 WNI hilang

Tiga dari empat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) dikabarkan hilang setelah kapal tugboat berbendera Uni Emirat Arab (UEA) meledak dan tenggelam di Selat Hormuz, Jumat (6/3) lalu.

Plt Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI Heni Hamidah menjelaskan keempat WNI tercatat bekerja di kapal Musaffah 2 yang berbendera UEA.

"Insiden terjadi di Selat Hormuz, diantara perairan Persatuan Emirat Arab (PEA) dan Oman pada tanggal 6 Maret 2026 pukul 02.00 dini hari waktu setempat," kata Heni dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/3).

Heni menjelaskan berdasarkan keterangan saksi mata, kapal Musaffah 2 meledak hingga menyebabkan kebakaran sebelum akhirnya tenggelam di Selat Hormuz. Saat ini otoritas UEA dan Oman tengah menyelidiki penyebab pasti ledakan kapal.

3. Presiden Iran minta maaf ke negara Arab

Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara Arab atas serangan yang menyasar wilayah mereka.

Pezeshkian berjanji tidak akan menargetkan negara-negara tetangganya itu kecuali Teheran mendapat ancaman dari mereka.

"Saya harus meminta maaf atas nama saya sendiri dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Sabtu (7/3).

"Dewan kepemimpinan sementara kemarin sepakat tidak akan ada lagi serangan terhadap negara-negara tetangga dan tidak akan ada rudal yang ditembakkan kecuali serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut," paparnya menambahkan seperti dikutip AFP.

Iran telah dipimpin Dewan Kepemimpinan sementara pasca Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dibunuh dalam serangan di Teheran pada 28 Februari lalu.

[Gambas:Video CNN]

4. Iran bersumpah bakal perang sampai titik darah penghabisan

Pezeshkian bersumpah negaranya tidak akan pernah menyerah kepada AS dan Israel dalam perang kali ini. Ia bertekad membela Iran sampai titik darah penghabisan.

"Musuh-musuh Iran harus membawa keinginan mereka agar rakyat Iran menyerah tanpa syarat ke dalam kubur mereka," kata Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah seperti dikutip AFP.

"Kami berdiri dan melawan sampai mati untuk membela negara. Operasi pertahanan Iran secara eksklusif ditujukan terhadap target dan fasilitas yang merupakan sumber dan awal mula tindakan agresif terhadap bangsa Iran," tegasnya, dalam unggahan di media sosial X-nya.


5. AS klaim kuasai penuh ruang udara Iran dalam 4-6 pekan ini

Amerika Serikat mengeklaim wilayah udara Iran akan mereka kuasai dalam empat hingga enam pekan mendatang.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan operasi militer AS di Timur Tengah menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

"Kami berada di jalur yang sangat baik untuk mengendalikan wilayah udara Iran," kata Leavitt kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (6/3), melansir Reuters.

Menurut Leavitt, Washington juga tengah mempertimbangkan sejumlah kandidat yang berpotensi memimpin Iran di masa mendatang.

(blq/end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK