Anak Khamenei Jadi Pemimpin, Iran Dicap Sukses Bikin Malu AS-Israel

CNN Indonesia
Senin, 09 Mar 2026 08:31 WIB
Penunjukan putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei,sebagai pemimpin tertinggi baru Iran dicap penghinaan terhadap Amerika Serikat.
Sosok Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. (Foto: AFP/-)

Operasi militer AS-Israel sia-sia

Belum lagi dampak dari perang yang membuat harga minyak dunia meroket imbas Selat Hormuz yang ditutup Iran.

Para pengamat menilai operasi AS-Israel ke Iran sia-sia karena Iran tetap dipimpin oleh sosok garis keras seperti Khamenei.

Penunjukan Mojtaba disebut memberi pesan tegas bahwa Iran menolak prospek kompromi apa pun dengan AS, serta bahwa konfrontasi dan resiliensi akan menjadi dasar negara itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menunjuk Mojtaba untuk mengambil alih (kekuasaan) adalah taktik yang sama," kata Vatanka.

Meski begitu, menurut sejumlah sumber internal, kepemimpinan Mojtaba akan menghadapi tekanan internal dan eksternal yang sangat besar dari penduduk yang tidak puas dengan ayahnya. Namun, mereka meyakini situasi ini akan mendorong Mojtaba bergerak cepat untuk mengonsolidasikan kekuasaan.

Ini artinya Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akan mendapat wewenang yang lebih luas dan Iran akan menerapkan kontrol domestik yang lebih ketat.

"Dunia akan merindukan era ayahnya," kata seorang pejabat regional yang dekat dengan Teheran kepada Reuters.

"Mojtaba tidak punya pilihan selain menunjukkan tangan besi...bahkan jika perang berakhir, akan ada penindasan internal yang parah," lanjutnya.

Mojtaba adalah putra kedua Khamenei yang punya hubungan kuat dengan IRGC, badan militer paling kuat di negara itu, serta dengan pasukan paramiliter sukarelawan Iran, Basij.

Meski bukan ulama pangkat tinggi dan tak punya peran resmi di pemerintahan, Mojtaba diyakini memiliki pengaruh signifikan atas Iran.

Iran sedang bergulat dengan krisis ekonomi yang kian parah. Penindasan terhadap warga juga dilaporkan terus meningkat hingga memicu kemarahan publik.

Penduduk Iran akan dibayangi hari-hari yang lebih sulit di bawah kepemimpinan Mojtaba.

"Mojtaba bahkan lebih buruk dan lebih garis keras daripada ayahnya," kata Alan Eyre, mantan diplomat AS dan pakar Iran.

"Dia menyimpan banyak hal untuk dibalas," lanjutnya.

Menurut peneliti senior di Middle East Institute, Paul Salem, Mojtaba juga bukan sosok tepat untuk mencapai kesepakatan dengan AS maupun untuk melakukan manuver diplomatik.

"Tidak seorang pun yang muncul sekarang akan mampu berkompromi. Ini adalah pilihan garis keras, yang dibuat pada saat yang genting," kata Salem.

(blq/rds)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2