Kontroversi Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran Tanpa Gelar Ayatollah

CNN Indonesia
Senin, 09 Mar 2026 12:56 WIB
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi negara itu, Senin (9/3).
Mojtaba Khamenei belum bergelar Ayatollah. (Foto: via REUTERS/Office of the Iranian Supreme Leader)

Tak bergelar Ayatollah

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Supreme Leader disebut bisa memicu kontroversi dan konflik di internal pemerintah. Sebab, pria 56 tahun itu diangkat sebagai pemimpin tertinggi meski belum bergelar Ayatollah.

Dikutip dari laman wisdomlib.com, Ayatollah adalah gelar kehormatan yang terutama digunakan dalam Syiah, yang menandakan seorang ulama Syiah Dua Belas Imam berpangkat tinggi.

Kata "Ayatollah" berasal dari kata-kata Arab "Ayat" , yang berarti "tanda" atau "bukti," dan "Allah" yang berarti "Tuhan." Dengan demikian, gelar tersebut diterjemahkan sebagai "Tanda Tuhan" atau "Tanda Ilahi."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Gambas:Video CNN]

Gelar ini diberikan kepada para ulama yang telah menunjukkan pengetahuan mendalam, kesalehan, dan kepemimpinan dalam komunitas Syiah. Gelar ini tidak memiliki nama yang dapat diturunkan atau dikaitkan secara langsung, karena merupakan gelar dan bukan nama pemberian.

Sementara itu, Republik Islam Iran yang berdiri 1979 setelah melancarkan revolusi dan menggulingkan monarki itu memeluk prinsip bahwa pemimpin tertinggi harus dipilih berdasarkan kedudukan agama dan kepemimpinan yang telah terbukti. Bukan melalui garis keluarga suksesi.

Dua tahun lalu, salah satu anggota Majelis Ahli mengatakan bahwa Ali Khamenei bahkan sempat menentang gagasan putranya itu menjadi kandidat pemimpin tertinggi di masa depan. Namun, ia tidak pernah secara terbuka menanggapi spekulasi tersebut.

Ulama kelas menengah

Dikutip Al Jazeera, Mojtaba Khamenei mulai membangun hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sejak usia muda, ketika ia bertugas di Batalyon Habib dalam beberapa operasi selama Perang Iran-Irak pada 1980-an.

Sejumlah rekan seperjuangannya, termasuk para ulama, kemudian menduduki posisi penting dalam aparat keamanan dan intelijen Republik Islam yang saat itu masih baru berdiri.

Kredensial keagamaan Khamenei juga menjadi bahan perdebatan, karena ia hanya menyandang gelar Hojatoleslam, yaitu ulama tingkat menengah, bukan Ayatollah yang memiliki peringkat lebih tinggi.

Namun, mendiang ayahnya juga belum bergelar Ayatollah ketika menjadi pemimpin Iran pada 1989, dan undang-undang saat itu diubah untuk mengakomodasi hal itu. Kompromi serupa kemungkinan juga bisa dilakukan untuk Mojtaba Khamenei.

(blq/rds)

HALAMAN:
1 2