Kontroversi Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran Tanpa Gelar Ayatollah
Majelis Ahli Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei, putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi negara itu, Senin (9/3).
Penunjukan Mojtaba berlangsung sepuluh hari setelah sang ayah, Ali Khamenei, ibu dan istrinya tewas imbas serangan gabungan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari hingga memicu perang meluas di Timur Tengah.
Selain Mojtaba Khamenei, beberapa kandidat lain muncul untuk posisi tertinggi tersebut termasuk Alireza Arafi, salah satu dari tiga anggota dewan sementara yang memimpin negara, tokoh garis keras Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini yakni cucu pendiri Republik Islam Iran pada 1979.
Namun pada akhirnya Majelis Ahli memilih Mojtaba Khamenei, untuk menduduki jabatan tertinggi di Iran tersebut.
Sejauh ini, badan beranggotakan 88 ulama tinggi itu baru satu kali mengawasi proses transisi kepemimpinan, yakni ketika Ali Khamenei dipilih pada 1989 setelah Ruhollah Khomeini wafat.
Ulama kelas menengah tak bergelar Ayatollah, baca di halaman berikutnya >>>