3 Tetangga RI Sudah Jadi 'Korban' Perang Iran-AS, Indonesia Bagaimana?
Filipina
Presiden Filipina Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. pada Jumat (6/3) memutuskan untuk menerapkan empat hari kerja bagi seluruh masyarakat buntut konflik di Timur Tengah.
Bongbong mengatakan keputusan itu untuk meringankan dampak ekonomi yang dialami Filipina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita adalah korban perang yang bukan kemauan kita," kata Bongbong dalam pernyataan pada Jumat (6/3), seperti dikutip AFP.
Kebijakan itu mulai berlaku pada Senin (9/3) dan dimulai dari kantor-kantor pemerintah. Meski begitu, kebijakan ini tidak berlaku pada pekerja layanan publik, seperti polisi dan pemadam kebakaran.
Bongbong berujar penutupan Selat Hormuz berisiko meningkatkan harga bahan bakar lokal di pekan ini sebesar 7,48 peso per liter untuk bensin, 17,28 peso untuk solar, dan 32,35 peso untuk minyak tanah.
Sembilan puluh enam (96) persen minyak Filipina diimpor dari Teluk Persia.
Bongbong telah memerintahkan semua instansi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik sebesar 10-20 persen. Ia juga melarang perjalanan luar negeri bagi aparatur negaara, mengalihkan rapat-rapat ke virtual, mendesak Kongres mengizinkannya mengurangi pajak cukai atas produk minyak bumi, serta minta izin untuk mengamendemen undang-undang biofuel.
Thailand
Perdana Menteri sementara Thailand Anutin Charnvirakul pada Selasa (10/3) meminta pegawai negeri bekerja dari rumah dan menangguhkan perjalanan ke luar negeri.
Wakil juru bicara pemerintah Lalida Periswiwatana mengatakan perintah tersebut ditetapkan sebagai upaya menghemat persediaan energi nasional.
Kementerian Energi Thailand juga mengusulkan kantor-kantor pemerintah dan swasta menaikkan suhu pendingin ruangan menjadi 26-27 derajat Celsius. Karywan juga diminta mematikan peralatan listrik yang tidak perlu, mengurangi penggunaan lift dan mesin fotokopi, serta mengalihkan rapat ke virtual.
Sebagai gantinya, karyawan diperkenankan mengenakan kemeja lengan pendek tanpa dasi, kecuali saat upacara.
Dilansir dari Channel NewsAsia, Thailand memperoleh 74 persen minyaknya dari Teluk Persia.
Pemerintah Thailand pun menyatakan akan meredupkan lampu papan reklame dan menutup SPBU mulai pukul 22.00 malam jika situasi di Timur Tengah memburuk.
Menteri Energi Thailand Auttapol Rerkpibool mengatakan harga gasohol E20 akan diturunkan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar berbasis bensin. Pemerintah juga akan beralih dari penggunaan diesel B5 ke B7 demi menurunkan penggunaan diesel murni dan meningkatkan diesel berbasis minyak sawit.
Auttapol menegaskan Thailand sejauh ini masih aman dari krisis bahan bakar.
Vietnam
Dikutip ABS-CBN, pemerintah Vietnam baru-baru ini juga mendorong karyawan bekerja dari rumah "kapan pun memungkinkan". Anjuran ini digaungkan sebagai langkah antisipasi terhadap lonjakan permintaan BBM.
AFP melaporkan antrean terjadi di berbagai pom bensin Vietnam belakangan ini. Seorang warga mengaku harus mengantre sekitar satu jam hanya untuk mengisi tangki kendaraan.
Pemerintah telah mengimbau warga untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum. Bahkan, pemerintah meminta masyarakat mulai menggunakan sepeda konvensional.
Vietnam sejauh ini berhasil menghindari masalah kekurangan BBM nasional. Meski begitu, media-media lokal melaporkan puluhan SPBU kecil telah tutup sementara atau mengurangi jam operasionalnya karena menipisnya pasokan.
Menurut laporan Channel NewsAsia, Vietnam memperoleh 87 persen minyak dari Timur Tengah.
Bagaimana Indonesia?
Indonesia sendiri sudah merasakan dampak perang Iran vs AS-Israel secara tidak langsung.
Sejak perang pecah akhir Februari, banyak penerbangan ke dan melalui Timur Tengah dibatalkan.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah sampai jebol Rp17 ribu, hingga potensi lonjakan harga minyak dunia juga menghantui Indonesia di tengah situasi Timur Tengah saat ini.
Kementerian Haji dan Umrah juga memaparkan sekitar 2.000 jemaah umrah juga sempat tertahan tidak bisa pulang imbas penerbangan di Timur Tengah terganggu karena perang.
Beberapa perjalanan umrah juga dikabarkan dibatalkan atau ditunda imbas ketidakpastian situasi serta keamanan di Timur Tengah.
Sebab, Arab Saudi dan sejumlah negara lainnya turut terseret perang Iran vs AS-Israel lantaran menampung markas militer Negeri Paman Sam yang menjadi target serangan balasan Teheran.
(blq/rds)[Gambas:Video CNN]


