Menohok! Menlu Iran Ejek Operasi 'Epic Fury' Trump Jadi 'Epic Mistake'

CNN Indonesia
Rabu, 11 Mar 2026 12:27 WIB
Menku Iran Abbas Araghchi mengejek operasi 'Epic Fury' AS jadi 'Epic Mistake'. (REUTERS/Pierre Albouy)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengejek operasi militer Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Teheran.

Araghchi menyebut Operasi "Epic Fury" (amukan besar) itu sebagai "Epic Mistake" (kesalahan besar).

Dalam unggahan di media sosial X-nya, Araghchi mengatakan klaim AS bahwa Iran berencana menyerang Washington merupakan kebohongan belaka.

Kebohongan itu, kata dia, sengaja dipakai Trump untuk meluncurkan serangan terhadap Iran, dengan menggunakan uang pajak warga Amerika.

"Klaim bahwa Iran berencana menyerang AS atau pasukan AS, baik secara preventif maupun preemptif, adalah kebohongan belaka. Satu-satunya tujuan kebohongan itu adalah untuk membenarkan Operasi Epic Mistake, sebuah kesialan yang diatur Israel dan dibiayai warga biasa Amerika," tulis Araghchi, Rabu (11/3).

Dalam unggahan lainnya, Araghchi mengatakan Trump telah berkhianat kepada Iran dan warga Amerika karena meletuskan perang ini. Ia berujar warga AS sudah menolak perang, tapi Trump malah meluncurkan serangan sewenang-wenang.

Serangan itu bahkan dilakukan saat AS dan Iran sedang dalam negosiasi nuklir yang sudah menunjukkan progresif positif.

"Trump telah mengkhianati diplomasi dan rakyat Amerika yang memilihnya," tulis Araghchi.

Dalam unggahan lainnya lagi, Araghchi berpendapat serangan berlarut-larut AS ke Iran saat ini tampaknya dilakukan karena Trump menginginkan minyak Iran.

"Sembilan hari setelah Operasi Epic Mistake dimulai, harga minyak telah berlipat ganda dan semua komoditas meroket. Kami tahu AS sedang merencanakan sesuatu terhadap situs minyak dan nuklir kami dengan harapan dapat menahan guncangan inflasi yang besar," tulisnya.

Aragchi kemudian menegaskan bahwa "Iran sepenuhnya siap (melawan). Kami juga punya banyak kejutan yang menanti."

AS dan Israel menyerang Iran sejak 28 Februari lalu. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Iran telah membalas dengan menyerang wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Iran juga menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang bertanggung jawab atas seperlima pasokan minyak dunia.

Panasnya perang ini telah membuat pasar ketar-ketir. Pada awal pekan ini, bursa saham rontok berjemaah dan harga minyak dunia melambung hingga mencapai level tertinggi sejak 2022.

Trump sudah menyampaikan perang akan segara berakhir dalam waktu dekat. Namun, Iran menyatakan pihaknya yang memutuskan kapan pertempuran usai.

(blq/bac)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK