Intelijen AS Beber Rezim Iran Masih Kuat, Trump Beri Sinyal Nyerah?

CNN Indonesia
Kamis, 12 Mar 2026 10:28 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan ingin menyerah usai laporan intelijen terbaru AS menyimpulkan rezim Iran tak goyah.
Presiden AS Donald Trump mulai pusing setelah rezim Iran disebut masih kuat. (AFP/SAUL LOEB
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan ingin menyerah usai laporan intelijen terbaru AS menyimpulkan rezim Iran tak goyah meski telah diserang bertubi-tubi selama dua pekan ini.

Dalam laporan Reuters pada Rabu (11/3), tiga sumber yang mengetahui persoalan ini mengatakan Trump sudah mengisyaratkan akan mengakhiri perang di Iran "secepatnya".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebab, berdasarkan hasil intelijen terbaru, pemerintahan garis keras Iran saat ini masih tetap kuat dan tidak berisiko runtuh dalam waktu dekat.

Sejumlah besar laporan intelijen telah memberikan analisis yang sama bahwa rezim Teheran tidak dalam bahaya dan masih tetap berkuasa penuh atas masyarakat. Kesimpulan terbaru ini selesai disusun beberapa hari lalu.

Trump belakangan menghadapi tekanan politik besar akibat melonjaknya harga minyak dunia buntut perang AS-Israel vs Iran. Media-media AS sebelumnya juga melaporkan ada penolakan di dalam negeri mengenai operasi Washington di Teheran yang dinilai terlalu mahal.

Meski begitu, Trump tampaknya bakal kesulitan mencari alasan menyetop perang jika rezim Iran tetap bertekad untuk terus melawan. Iran sudah menyatakan pihaknya yang akan menentukan kapan perang berakhir.

Menurut kesimpulan intelijen AS, para pemimpin Iran tetap kompak meskipun pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dibunuh AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Para pemimpin Iran tetap mengendalikan negara tersebut, terlepas dari banyaknya pejabat tinggi yang berguguran. Selain Khamenei, serangan AS-Israel juga menewaskan puluhan pejabat senior dan komandan pangkat tinggi di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

IRGC adalah pasukan paramiliter elite Iran yang mengendalikan sebagian besar perekonomian negara itu.

Hanya sepekan lebih setelah Khamenei tewas, Majelis Ahli Iran langsung menunjuk pemimpin tertinggi baru, yakni putra Khamenei sendiri, Mojtaba Khamenei (56). Majelis Ahli adalah kelompok ulama Syiah senior yang bertugas memilih penerus pemimpin tertinggi.

Dalam diskusi tertutup, para pejabat Israel juga mengakui bahwa tidak ada kepastian perang di Iran dapat meruntuhkan pemerintahan ulama.

Kantor Direktur Intelijen Nasional AS dan Badan Intelijen Pusat sejauh ini menolak berkomentar. Gedung Putih juga tidak kunjung menanggapi pertanyaan.

Israel masih getol habisi Iran

Menurut sumber keempat, Israel tidak berniat membiarkan sisa-sisa pemerintahan Iran sebelumnya tetap utuh.

Sumber yang tak ingin disebutkan namanya itu mengatakan Israel butuh operasi darat jika tetep ngotot mengejar ambisi tersebut. Namun, operasi itu mesti dilakukan dengan aman agar tidak mengganggu masyarakat Iran.

Pemerintahan Trump sendiri hingga kini juga tidak mengesampingkan kemungkinan operasi darat di Iran. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Selasa (10/3) menyampaikan opsi itu tetap terbuka bagi Trump.

Senator Demokrat Richard Blumenthal baru-baru ini juga menyampaikan bahwa ia khawatir akan potensi AS menerjunkan pasukan darat ke Iran, yang menurutnya membahayakan warga AS.

Ia mengatakan hal itu kepada wartawan usai meninggalkan pengarahan rahasia mengenai perang AS-Israel vs Iran dengan perasaan "tidak puas dan marah".

(blq/bac)


[Gambas:Video CNN]