Menlu Iran: Selat Hormuz Terbuka untuk Semuanya, Kecuali AS dan Israel
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya mengizinkan semua negara--kecuali Amerika Serikat (AS) bersama Israel dan sekutunya--untuk berlayar melintasi Selat Hormuz.
Demikian dikutip dari MS Now, mengutip Araghchi dalam wawancara eksklusif jurnalis Mesir, Ayman Mohyeldin, Sabtu (14/3) lalu. Hal tersebut merupakan perkembangan terbaru setelah AS dilaporkan mengebom target militer di Pulau Kharg yang sangat penting bagi minyak Iran.
"Sebenarnya, Selat Hormuz terbuka," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selat itu hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kita, untuk mereka yang menyerang kita dan sekutu mereka. Yang lain bebas untuk lewat," sambungnya.
Selat Hormuz yang sempit menjadi salah satu lalu lintas perairan penting bagi suplai minyak dunia. Gangguan di jalur maritim sempit penghubung Teluk Persia dan Laut Arab, i berpotensi meningkatkan harga minyak global secara signifikan.
"Dan saya dapat mengatakan bahwa Selat tersebut tidak ditutup, tetapi hanya ditutup untuk kapal dan tanker Amerika, Israel, dan bukan untuk yang lain," ujar Araghchi.
Sebelumnya diberitakan, mengutip dari Aljazeera dan CNN, Iran kemungkinan bakal mengizinkan kapal tanker minyak untuk melewati Selat Hormuz secara terbatas.
Syarat tersebut jika minyak yang dikapalkan itu diperdagangkan dalam mata uang yuan China menurut CNN. Pun demikian, melansir dari Al Jazeera, mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya.
Usulan ini merupakan bagian dari rencana yang lebih luas yang dilaporkan sedang dikembangkan Teheran untuk mengelola lalu lintas kapal tanker melalui jalur air strategis tersebut setelah perang Israel-AS dan Iran terjadi.
Sebagian besar penjualan minyak global dilakukan dalam dolar AS, meskipun minyak mentah Rusia yang dikenai sanksi semakin banyak diperdagangkan dalam rubel atau yuan.
Konflik itu pun bergeser dengan salah satu tindakan Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan pintu keluar masuk perdagangan minyak dari negara-negara teluk.
Hal itu pun membuat harga minyak mentah dunia bergejolak.
Pada Senin (9/3) lalu, harga minyak acuan Brent sempat menyentuh US$119,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022. Lalu turun setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran bisa segera berakhir.
Pagi tadi, harga kontrak minyak mentah Brent kembali naik US$8,54 atau 9,28 persen menjadi US$100,52 per barel. Lonjakan terjadi setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah.
Pada Minggu (15/3), Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan untuk menyerang lagi Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran. Dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Trump mengklaim telah menghancurkan sebagian besar fasilitas di Pulau Kharg.
Ia kemudian menyebut serangan tambahan ke Pulau Kharg bisa terjadi berkali-kali hanya untuk bersenang-senang.
"Kami mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang," kata Trump.
Pada Sabtu lalu, AS melancarkan serangan udara dahsyat ke markas militer Iran di Pulau Kharg, dekat Selat Hormuz. Serangan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan antara dua negara yang bertikai.
Trump mengumumkan serangan tersebut dalam sebuah postingan di media sosial miliknya, Truth Social. Menurutnya serangan itu merupakan salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah.
Trump mengatakan dalam serangan tersebut AS memilih menghindari mengebom infrastruktur minyak Iran di pulau itu. Namun, ia mengancam akan mempertimbangkan menghancurkan infrastruktur minyak apabila Iran dan sekutunya mengganggu kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. .
Pulau Kharg selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran. Sekitar 90 persen minyak mentah Iran dimuat dari pulau itu sebelum dikirim ke negara pembeli.
Dengan menghantam instalasi militer di sana, AS diduga ingin membatasi kemampuan Iran melancarkan serangan rudal terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
AS yakin Iran menggunakan Pulau Kharg untuk melancarkan serangan rudal terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Ancaman terhadap infrastruktur minyak di Kharg juga dinilai signifikan. Jika fasilitas itu diserang, dampaknya bisa langsung mengguncang pasar energi global, mengingat Hormuz menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Konflik di Timur Tengah itu memanas setelah AS berkolaborasi dengan Israel mengebom Iran pada pertengahan bulan lalu atau awal Ramadan tahun ini. Dalam pengeboman itu, pemimpin tertinggi negara itu Ayatullah Khomeini ikut tewas. Posisi Khomenei kini digantikan anaknya, Mojtaba.
(kid) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]