Israel Semena-mena Tutup Al Aqsa, Pangeran Yordania Buka Suara
Pangeran Hassan bin Talal dari Yordania mengecam penutupan akses salat di Masjid Al Aqsa oleh Israel dan menyebutnya sebagai sinyal berbahaya bagi kawasan.
Ia menilai langkah itu kembali menempatkan isu Palestina di pusat perhatian publik dunia Arab.
Dalam wawancara dengan radio Hayat FM, pada Minggu (15/3) selama program penggalangan dana untuk Asosiasi Bantuan Medis untuk Palestina, Hassan menyebut kawasan Timur Tengah mengalami perubahan yang sangat cepat.
Kondisi ini, menurutnya menuntut peninjauan ulang terhadap posisi publik negara-negara yang dimaksud.
Dilansir Middle East Monitor, Hassan juga menyoroti munculnya pandangan dari sejumlah negara Teluk terkait konflik Arab-Israel.
Negara-negara itu dinilai ingin memisahkan konflik itu dari ketegangan yang lebih luas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, meski tidak merinci negara yang dimaksud.
Hassan menyebut kawasan Levant sebagai "tempat lahir tragedi" dan menilai aspek kemanusiaan dalam isu Palestina seiring terabaikan, meski ada perkembangan hukum internasional.
Ia menyinggung peran Mahkamah Internasional yang dinilai memperkuat posisi Palestina dalam hukum internasional.
Hassan juga menekankan pentingnya menjaga aspek kemanusiaan dalam setiap kebijakan politik maupun hukum.
Selain itu, ia memperingatkan bahwa perluasan pemukiman Israel di Gaza dan Tepi Barat harus mendapat perhatian serius.
Menurutnya, hal ini berkaitan dengan keberlangsungan identitas Arab dan Islam di kawasan.
Hassan juga menilai hal itu berpotensi mengancam stabilitas kawasan dan masa depan Timur Tengah.
Pada Rabu (4/3), militer Israel telah menutup Masjid Al Aqsa bagi para jemaah selama tiga hari berturut-turut dengan alasan keamanan di kawasan yang dinilai masih tidak stabil.
Penutupan ini dilakukan otoritas Israel sebagai keadaan darurat menyusul dimulainya perang dengan Iran pada Sabtu (28/2).
Warga Palestina tidak diizinkan masuk untuk menjalankan ibadah, sementara akses menuju kompleks dibatasi secara ketat.
Selain itu, sejumlah saksi mengatakan beberapa jemaah yang mencoba mencapai gerbang masjid diminta kembali, dan sebagian wilayah Kota Tua berubah menjadi area militer tertutup.
(rnp/bac)