Pernyataan Bersama Menlu Arab Usai Pertemuan di Riyadh soal Iran

CNN Indonesia
Kamis, 19 Mar 2026 12:55 WIB
Ilustrasi. Personel darurat di lokasi serangan terhadap roket AS-Israel di Teheran, Iran, 16 Maret 2026. (Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para menteri luar negeri (menlu) negara-negara Arab dari kawasan Teluk melakukan pertemuan di Riyadh, Arab Saudi, soal konflik Timur Tengah yang memanas pascaserangan Amerika Serikat (AS)-Israel yang dibalas Iran.

Mengutip dari Aljazeera, pertemuan para Menlu negara Arab di Riyadh pada Kamis (19/3) itu kemudian menelurkan pernyataan bersama yang isinya mengutuk  "penggunaan rudal balistik dan drone secara sengaja yang menargetkan daerah pemukiman dan infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak, pabrik desalinasi, bandara, fasilitas perumahan, dan misi diplomatik."

Para menlu di kawasan itu "menegaskan bahwa serangan semacam itu tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun dan mengulangi hak negara untuk membela diri."

Mereka juga menyerukan kepada Iran untuk segera menghentikan serangan-serangannya ke negara kawasan, dan meredakan ketegangan.

Saudi siap balas aksi militer

Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan al Saud menyatakan kerajaannya tidak akan mengenyampingkan tindakan militer sebagai tanggapan terhadap serangan rudal dan drone berulang dari Iran.

Hal itu disampaikannyakepada wartawan setelah pertemuan para menteri luar negeri dari kawasan tersebut di Riyadh hari ini.

Mengutip dari AFP, Pangeran Faisal menuding Iran "berusaha menekan negara-negara tetangganya" dengan serangan. Iran diketahui membalas serangan yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel pada awal Ramadan ini atau Februari lalu ke kepentingan Negara Paman SAM dan Zionis ke negara-negara terkait di kawasan, termasuk Saudi.

"Kerajaan tidak akan menyerah pada tekanan, dan sebaliknya, tekanan ini akan menjadi bumerang... dan tentu saja, seperti yang telah kami nyatakan dengan cukup jelas, kami berhak untuk mengambil tindakan militer jika dianggap perlu," kata Faisal.

AFP memberitakan Arab Saudi melaporkan lebih banyak serangan dari Iran pada Rabu (18/3). Pada saat yang sama, menteri-menteri luar negeri negara Arab mengikuti pertemuan di Riyadh--ibu kota Saudi-- untuk membahas dampak dari perang Timur Tengah.

Berdasarkan reportase wartawan AFP Beberapa ledakan keras terdengar di ibu kota Saudi itu padaRabu lalu, namun belum dapat dikonfirmasi asalnya. Sementara itu, Kemenhan Saudi menyatakan telah mencegat rudal-rudal balistik.

"Penargetan Riyadh saat sejumlah diplomat sedang bertemu... Saya pikir itu adalah sinyal paling jelas tentang bagaimana perasaan Iran terhadap diplomasi," kata Faisal.

"Iran tidak percaya pada dialog dengan negara-negara tetangganya," tudingnya.

Selain itu, salah satu tokoh penting dalam wangsa Sauditu mengutuk 'penargetantempat-tempat sipil' yang berulang kali terjadi di seluruh kawasan negara Teluk. Faisal pun menegaskan pihaknya menolak dalih pembenaran Iran bahwa mereka menargetkan kepentingan AS di kawasan itu.

"Baik Arab Saudi maupun negara-negara Teluk tidak akan menerima... pemerasan (blackmail), dan eskalasi akan dibalas dengan eskalasi," katanya.

Sementara itu mengutip dari Aljazeera, AS berkolaborasi dengan Israel untuk menggempur ladang atau fasilitas gas utama Iran, South Pars. Iran--melalui Garda Revolusi Islam (IRGC)-- membalas serangan itu ke Israel, dan fasilitas terkait AS-Israel di kawasan. salah satunya adalah ke fasilitas gas Qatar, Ras Laffan hingga menyebabkan kerusakan luas.

Selain itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyetop sementara operasional fasilitas gas Habshan karena puing-puing hasil mencegat rudal balistik.

Belakangan, AS mengklaim tak tahu lebih awal soal Israel menggempur South Pars.

Sementara itu, harga minyak dunia terus melonjak setelah ketegangan terkini.

Harga minyak mentah Brent mencapai lebih dari $108 per barel atau naik 4,92 persen, sedangkan minyak mentah AS naik menjadi $98 per barel atau naik 1,86 persen.

(kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK