Ambisi Netanyahu Bikin Pipa Minyak Khusus ke Israel, Hindari Hormuz

CNN Indonesia
Jumat, 20 Mar 2026 09:15 WIB
Netanyahu berambisi perlunya pembangunan pipa-pipa mengangkut minyak dan gas Timur Tengah ke Israel, tanpa perlu lewat Selat Hormuz.
Netanyahu berambisi perlunya pembangunan pipa-pipa mengangkut minyak dan gas Timur Tengah ke Israel, tanpa perlu lewat Selat Hormuz. (via REUTERS/Abir Sultan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berambisi soal perlunya pembangunan pipa-pipa untuk mengangkut minyak dan gas Timur Tengah melintasi Semenanjung Arab menuju pelabuhan-pelabuhan Israel.

Menurutnya, hal itu penting untuk menghindari ancaman Iran di Selat Hormuz dan perairan Teluk lainnya. Keyakinan itu disampaikan satu hari setelah Israel menyerang ladang gas utama Iran yang memicu eskalasi tajam perang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rute alternatif selain Hormuz, kata Netanyahu seperti diberitakan Reuters pada Jumat (20/3), perlu ditemukan karena mempertimbangkan potensi keuntungan bagi Israel jika jalur sempit tersebut ditutup dalam waktu lama.

"Cukup buat pipa minyak, pipa gas, yang mengarah ke barat melalui Semenanjung Arab, langsung ke Israel, langsung ke pelabuhan Mediterania kami dan Anda baru saja menyingkirkan titik-titik penyumbat (jalur laut) selamanya," ujar Netanyahu.

"Saya melihat hal itu sebagai perubahan nyata yang akan mengikuti perang ini."

[Gambas:Video CNN]

Saat ditanya wartawan mengenai serangan South Pars, fasilitas gas utama di kawasan teluk yang dimiliki Iran, Netanyahu mengatakan bahwa Israel bertindak sendiri atau tanpa keterlibatan AS.

"Presiden Trump meminta kami untuk menahan diri dari serangan-serangan di masa depan," katanya.

Trump, yang secara politik rentan terhadap kenaikan harga bahan bakar di mata pemilih utamanya, telah mengecam sekutu-sekutu yang merespons dengan hati-hati atas tuntutannya untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur bagi sekitar seperlima minyak dunia.

Netanyahu juga masih membela operasi militer negaranya, meskipun serangan terhadap ladang South Pars di Iran memicu serangan balasan terhadap pembangkit energi di seluruh Teluk yang menyebabkan harga energi melonjak.

"Kami tidak hanya bertindak untuk menghancurkan sisa-sisa rudal balistik dan apa yang tersisa dari program nuklir, sangat sedikit yang tersisa, tetapi juga untuk menghancurkan industri yang memungkinkan produksi program-program ini," kata Netanyahu.

Ia kemudian mengklaim bahwa Teheran tidak lagi memiliki kapasitas untuk memperkaya uranium. Hal itu disampaikan setelah Israel perang 20 hari melawan Iran.

Namun, Netanyahu tidak memberikan bukti untuk kedua klaim tersebut.

"Iran saat ini tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium dan tidak ada kemungkinan untuk memproduksi rudal."

Klaim itu pun sudah dibantah badan pengawas nuklir PBB. Kepala Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi, mengatakan kepada CBS News pada hari Kamis bahwa "banyak yang masih tersisa" dari kapasitas pengayaan nuklir Iran.

"Mereka memiliki kemampuan, mereka memiliki pengetahuan, mereka memiliki kemampuan industri untuk melakukan itu," kata Grossi.

Israel dan negara-negara Teluk sendiri telah terkena serangan rudal dan drone besar-besaran dari Iran sejak awal perang.

(reuters/chri) Add as a preferred
source on Google