PBB: Lebih dari 500 Orang Tewas dalam Perang di Sudan Tahun Ini

CNN Indonesia
Rabu, 25 Mar 2026 05:30 WIB
PBB melaporkan lebih dari 500 warga sipil tewas dalam perang saudara di Sudan antara Januari hingga pertengahan Maret 2026.
Ilustrasi. PBB melaporkan lebih dari 500 warga sipil tewas dalam perang saudara di Sudan tahun ini. (REUTERS/Khalid Abdelaziz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 500 warga sipil tewas dalam perang saudara di Sudan antara Januari hingga pertengahan Maret 2026.

PBB mencatat ada peningkatan tajam dalam penggunaan drone dalam perang saudara Sudan. Mereka menggarisbawahi ada "dampak dahsyat dari senjata berteknologi tinggi dan relatif murah di daerah berpenduduk".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menurut informasi yang diterima, lebih dari 500 warga sipil tewas dalam serangan tersebut dari 1 Januari hingga 15 Maret," kata juru bicara Marta Hurtado kepada wartawan di Jenewa, seperti dilaporkan AFP.

Dia menambahkan sebagian besar kematian warga sipil ini terjadi di tiga negara bagian di wilayah Kordofan.

Saat ini wilayah Kordofan, Sudan selatan merupakan medan pertempuran paling sengit dalam perang tiga tahun antara tentara reguler dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

Wilayah ini menghubungkan benteng-benteng RSF di wilayah Darfur barat dengan wilayah timur yang dikuasai militer.

Hampir setiap hari terjadi serangan drone dan menewaskan puluhan orang di seluruh wilayah tersebut. Militer berupaya membendung RSF dan mendorong mereka kembali ke Darfur, menjauh dari ibu kota Khartoum.

"Hanya dalam dua minggu pertama Maret, informasi yang diterima menunjukkan bahwa lebih dari 277 warga sipil tewas, lebih dari tiga perempatnya tewas dalam serangan drone," kata Hurtado.

Serangan mematikan, lanjut dia, berlanjut dalam seminggu terakhir saat bulan suci Ramadan berakhir.

Secara khusus, Hurtado menyoroti serangan 20 Maret atau hari pertama liburan Idulfitri di RS Pendidikan El-Daein di negara bagan Darfur Timur. Serangan ini menewaskan 70 orang termasuk 13 anak-anak dan melukai 146 lainnya.

"Rumah sakit, termasuk unit gawat darurat, persalinan, dan pediatri, sepenuhnya tidak beroperasi, semakin membatasi akses yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang di daerah tersebut terhadap hak atas kesehatan," ujarnya.

Sementara itu, konflik di Sudan telah membuat 11 juta orang mengungsi sehingga menciptakan krisis kelaparan dan pengungsian terbesar di dunia.

PBB pun mendesak semua negara khususnya negara-negara berpengaruh untuk melakukan upaya untuk mengakhiri transfer senjata yang memicu konflik.

"Perlu ada upaya diplomatik yang diperbarui untuk mencapai gencatan senjata yang mendesak guna mengakhiri konflik," katanya.

(els) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]