Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel

CNN Indonesia
Minggu, 05 Apr 2026 16:05 WIB
Kisah Mordechai Vanunu, ahli nuklir yang membongkar program bom nuklir Iran dan berujung dibekuk Mossad.
Ilmuwan nuklir Mordechai Vanunu yang dibekuk Mossad. (AFP/AMIT SHABI)

Saat dibawa ke pengadilan di Israel dengan tudingan pengkhianatan dan spionase karena membocorkan rahasia persenjataan nuklir Israel kepada sebuah surat kabar Inggris, usia Mordechai 34 tahun.

Ketiga hakim di pengadilan distrik Yerusalem mengatakan saat menjatuhkan hukuman bahwa mereka telah mempertimbangkan segala hal dan kerja samanya dengan pihak berwenang. Namun mereka menolak argumen pembelaan yang menyatakan bahwa motifnya bersifat ideologis.

Pengacara Mordechai, Avigdor Feldman, menegaskan bahwa ia akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Sepanjang persidangan, yang dimulai Agustus, Feldman berpendapat bahwa pengadilan Israel tidak memiliki yurisdiksi dalam kasus ini karena kliennya diculik di luar negeri dan dibawa pulang secara ilegal untuk diadili.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saudara laki-laki Mordechai, Asher, mengatakan di luar ruang sidang yang dijaga ketat: "Saya merasa telah terjadi ketidakadilan terhadapnya. Persidangan tidak dilakukan secara sah. Tidak ada seorang pun di dalam untuk melihat apa yang terjadi."

Feldman mengajukan petisi yang ditandatangani oleh 20 ilmuwan terkemuka, termasuk 12 peraih Nobel, yang menggambarkan sang terdakwa sebagai 'seorang pria yang berhati nurani'. Para penandatangan, termasuk Linus Pauling dan Carl Sagan, menulis: 'Tidak ada penghargaan yang lebih besar yang dapat ditunjukkan oleh pengadilan terhadap opini yang layak dari umat manusia selain dengan mengakui keberanian Mordechai Vanunu yang sendirian.'

Penting diketahui, Linus Carl Pauling adalah ilmuwan Amerika Serikat dan satu-satunya orang yang memenangkan dua penghargaan Nobel yang tidak terbagi, yakni Penghargaan Nobel dalam Kimia pada 1954 dan Perdamaian pada 1962. Sementara Carl Sagan adalah astronom Amerika Serikat dan dikenal sebagai orang yang gigih mempopulerkan sains. Ia menulis sejumlah buku yang berkaitan dengan sains, terutama alam raya.

Mordechai Vanunu sendiri telah dinominasikan untuk hadiah Nobel Perdamaian 1988 oleh Yayasan Perdamaian Bertrand Russell. Profesor Richard Falk, seorang ahli hukum internasional dari Universitas Princeton, tidak diizinkan untuk memberikan kesaksian atas nama Vanunu. Pengadilan mengatakan bahwa mereka telah menerima pernyataan tertulis darinya.

Ketika ditanya apakah tidak adil untuk menuntut Mordechai dengan tuduhan pengkhianatan, Profesor Falk berkata: 'Mungkin ada alasan untuk menuntutnya dengan tuduhan pengkhianatan, tetapi apakah ada alasan yang meyakinkan untuk menghukumnya karena pengkhianatan adalah hal lain. Pengkhianatan bergantung pada niat.'

"Saya belum pernah mendengar kasus di mana seseorang dinominasikan untuk Hadiah Nobel dan dihukum karena pengkhianatan pada saat yang bersamaan," katanya.

Pihak negara menolak upaya pihak pembela untuk membuka kasus tersebut kepada pers dan publik. Pemerintah Israel terus mengabaikan banyak protes internasional atas hukuman yang tidak manusiawi ini dan banyak permohonan pengampunan.

Terpenjara di Katedral Anglikan St George

Kini di usia senjanya (72 tahun), Mordechai menjadi "tahanan" dalam sebuah gereja, tepatnya Katedral Anglikan St. George., Yerusalem. Tak banyak kabar tentang dia sebab pemerintah Israel melarangnya menggunakan internet atau telepon seluler dan tidak diperbolehkan mendekati kedutaan atau perbatasan.

Sebelum diasingkan ke tempat yang sekarang, Mordechai pernah berbicara kepada sejumlah awak media, "Kepada semua orang yang menyebut saya pengkhianat, saya bangga dan senang melakukan apa yang telah saya lakukan," katanya.

"Saya menderita di sini selama 18 tahun karena saya seorang Kristen". Tak lama kemudian ia dipindahkan ke sebuah apartemen di Jaffa. Namun setelah alamatnya dipublikasikan di media, ia memutuskan untuk tinggal di Katedral St. George di Yerusalem.

Laman Theothercheek.com, situs berita Kristen yang berbasis di Sydney, Australia tahun lalu menggambarkan kondisi Mordechai.

"Dia ingin mengunjungi Australia lagi untuk berterima kasih kepada teman-temannya di gereja lamanya, tempat diadakannya acara doa bersama setiap tahun untuk menghormatinya. Dia sangat ingin menikah, memiliki anak, dan tinggal di Barat," tulis lama itu.

"Saat musim panas yang panas dan kering menyelimuti Tanah Suci (Yerusalem), orang yang paling dibenci di Israel ini tetap terkunci di dalam Katedral St. George, terlalu gugup untuk keluar kecuali dalam keadaan yang sangat jarang terjadi. Visanya untuk meninggalkan negara itu telah ditolak. Namun seperti biasa, para pendukungnya di seluruh dunia terus mendesak pemerintah untuk mencabut pembatasan tersebut," tulis situs tersebut.

Pada tahun 2015, Mordechai menikahi profesor teologi Norwegia, Kristin Joachimsen. Pasangan tersebut meminta reunifikasi keluarga setelah pernikahan. Direktorat Imigrasi Norwegia telah memberikan izin kepadanya untuk berimigrasi demi bersatu kembali dengan kekasihnya. "Nilai-nilai keluarga telah menang," kata Kristin. Namun, tidak jelas apakah atau kapan ia akan diizinkan untuk pindah.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel tidak dapat menjelaskan apakah Mordechai telah mengajukan permintaan baru untuk melakukan perjalanan ke Norwegia. Namun, ia mengatakan pembatasan kebebasan bergerak si pembocor informasi itu disebabkan "bahaya yang ditimbulkannya" bagi negara Yahudi tersebut.

(imf/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2