Cerita Warga Iran yang Menyesal Dukung AS-Israel, Merasa Tertipu

CNN Indonesia
Jumat, 10 Apr 2026 15:15 WIB
Sejumlah warga Iran mengungkapkan penyesalan mendukung Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang negara mereka guna menggulingkan pemerintahan saat ini.
Kilang minyak di Iran dibom Israel. (via REUTERS/Majid Asgaripour)

Tidak semua warga Iran yang anti dengan pemerintahan saat ini menginginkan perang. Mereka menyadari, kehancuran akan menyulitkan warga dan pemerintah membangun ulang fasilitas-fasilitas yang hancur.

"Hanya orang buta yang bisa berpikir bahwa perang yang dimulai oleh Trump dan Netanyahu akan membawa kita kebebasan," kata Maryam, nama samaran, 47 tahun.

"Bukankah kita melihat Gaza? Lebanon? Suriah? Bagaimana mungkin ada yang berpikir ini akan berbeda?"

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan AS Israel selama hampir dua bulan terakhir menghancurkan infrastruktur energi Iran, jembatan, pabrik baja, petrokimia, sinagoge, rumah sakit, kampus dan sekolah, hingga ratusan bisnis.

"Mungkin kita harus lega bahwa ledakan telah berhenti. Tetapi bagaimana Anda membangun kembali sebuah negara setelah ini?" tutur Maryam.

Maryam mengecam warga Iran yang mendukung perang. Dia begitu geram dengan orang-orang yang mengatakan dukungan mereka tidak ada hubungannya dengan serangan AS-Israel ke Iran.

"Bukankah mereka mendengar Trump mengatakan kalau warga Iran menyambut pemboman itu? Saya tidak bisa memaafkan itu," ucap Maryam.

Abbas, 54 tahun, percaya serangan AS-Israel yang menghancurkan Iran ikut meruntuhkan karier politik Reza Pahlavi.

Menurut Abbas, Reza Pahlavi akan melakukan segala hal demi meraih kekuasaan. Namun dia tidak pernah mengutuk serangan AS dan Israel yang menghancurkan infrastruktur di Iran.

"Ia mencoba segala bentuk sanjungan yang dapat Anda bayangkan, berharap Trump akan menganggapnya serius. Tetapi pada akhirnya, ketika kesepakatan tercapai antara Washington dan Teheran, ia menjadi lebih tercela daripada sebelumnya," ujar Abbas.

Secara terang-terangan Abbas meminta pendukung Reza Pahlavi melupakan tokoh tersebut. Di mata Abbas, Reza Pahlavi tidak bisa diandalkan sebagai pemimpin.

"Saya harap para pendukungnya sekarang mengerti: Anda tidak dapat mengandalkan seseorang yang rela melihat rakyatnya sendiri terbunuh dan negaranya hancur hanya untuk meraih kekuasaan."

Niloufar memiliki pandangan yang lebih keras. Warga Teheran berusia 34 tahun itu hampir tidak percaya dengan gencatan senjata atau perang akan berhenti. Menurut Niloufar, selama di dalam rumah, dia tetap mendengar suara jet dan ledakan.

"Ketika gencatan senjata diumumkan, rasanya tidak nyata. Seperti beban yang terangkat dari dadaku. Untuk pertama kalinya dalam 40 hari, aku bisa tidur nyenyak," kata Niloufar.

(sry/bac) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2