Cegah Ancaman Israel, Negara Muslim Mau Bikin Aliansi Tiru NATO
CNN Indonesia
Sabtu, 25 Apr 2026 08:20 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Menteri luar negeri Pakistan Arab Saudi, Mesir, dan Turki, menggelar pertemuan di Antalya. (via REUTERS/Turkish Foreign Ministry)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak empat negara Muslim disebut berpotensi membentuk aliansi keamanan seperti NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara demi mencegah ancaman Israel.
Baru-baru ini Mesir dan Pakistan menggelar latihan militer gabungan di negara Asia Selatan. Itu bukan latihan gabungan pertama bagi kedua negara.
Latihan selama dua minggu tersebut dianggap berpotensi menyatukan pasukan tempur khusus antara Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi, sehingga mendekati aliansi keamanan.
Kolaborasi empat negara itu disebut sudah berkoordinasi soal isu-isu keamanan dan pertahanan dalam beberapa bulan terakhir. Serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025 disebut jadi pemicu kian intensifnya kontak dan pertemuan tingkat tinggi kuartet negara tersebut.
Agresi Israel itu dianggap para analis memperluas batas ancaman regional, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang keandalan penjamin keamanan eksternal.
"Segera setelah serangan itu, negara-negara Arab, terutama di wilayah Teluk, menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel," kata analis politik independen Mesir, Islam Mansi, kepada The New Arab.
Negara-negara regional yang saat itu menengahi gencatan senjata di Gaza kini mendorong perhitungan keamanan mereka akibat serangan Israel terhadap sekutu utama non-NATO.
Contoh lain dari konsekuensi serangan Israel adalah pakta pertahanan bersama antara Arab Saudi dan Pakistan, serta kemitraan pertahanan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan India.
Perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada 28 Februari menghasilkan pemikiran lain bagi ibu kota-ibu kota regional utama tentang Israel. Perang Iran menunjukkan sejauh ini Israel bertindak secara militer untuk mencapai tujuannya.
Kekhawatiran lain negara-negara Teluk soal keamanan mereka adalah pencaplokan Tepi Barat, yang bersamaan dengan seruan membangun kembali pemukiman Israel Di Gaza. Ditambah lagi serangan ke Lebanon dan Suriah juga ikut memicu kekhawatiran ekspansi teritorial soal 'Israel Raya' yang didukung Benjamin Netanyahu.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Para analis menggarisbawahi perlunya kekuatan regional menstabilkan keamanan wilayah mereka dan melindungi diri dan ancaman.
"Negara-negara di kawasan, terutama negara-negara besar, tidak bisa berdiam diri dan hanya menonton sementara keamanan regional terancam demi kesenangan kelompok radikal yang bertekad mengubah peta regional dan membentuk sistem regional agar sesuai dengan impian terliar mereka," kata analis politik Saudi, Omar Saif.
Omar Saif meyakini aliansi Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi memiliki bobot strategis yang unik, mengingat kemampuan yang berbeda-beda dari tiap negara.
"Aliansi yang sama dapat mengerem ambisi regional Israel," ucap Saif.
Menteri luar negeri empat negara itu menggelar pertemuan terbaru pada 17 April di sela-sela Forum Diplomasi Antalya di Turki.
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan negaranya bekerja sama dengan tiga mitra lainnya dalam menciptakan pengaturan keamanan regional pascaperang. Keempat negara bagian tersebut telah memainkan peran penting dalam membuka jalan bagi gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Harmonisasi 'kuartet Islam' yang tenang akan menghasilkan blok kekuatan yang signifikan. Populasi gabungan keempat negara itu memiliki 500 juta orang dan PDB sebesar US$3,87 triliun atau setara dengan Rp66,67 juta triliun, selain kekuatan militer dan aset geostrategis utama.
"Aliansi seperti itu akan menciptakan keseimbangan kekuatan yang sangat dibutuhkan kawasan ini," ujar Mansi.
"Dengan menggabungkan kekuatan, keempat negara tersebut akan mengirimkan pesan bahwa mereka tidak akan membiarkan Israel meniru tindakan Iran di negara lain di kawasan ini."
Tantangan apabila keempat negara itu membentuk aliansi keamanan adalah terkait masalah komitmen. Turki dan Mesir yang pernah berselisih kini mulai berdamai, ada juga ketegangan Turki dengan Arab Saudi soal pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi yang mulai mencair.
Keempat negara tersebut juga memiliki komitmen militer bilateral masing-masing, terutama Arab Saudi dan Mesir yang bermitra strategis dengan AS.
Dengan begitu, apakah AS akan mengizinkan keempat negara tersebut memulai aliansi formal guna menentang Israel?
Di mata analis politik Turki, Firas Ridvan Oglu, koalisi potensial ini bisa menciptakan keseimbangan kekuatan penting yang akhirnya melayani kepentingan AS.
"Bagaimanapun, Washington ingin menghindari meletusnya perang regional lainnya," kata Ridvan Oglu kepada TNA.