Cegah Ancaman Israel, Negara Muslim Mau Bikin Aliansi Tiru NATO
Para analis menggarisbawahi perlunya kekuatan regional menstabilkan keamanan wilayah mereka dan melindungi diri dan ancaman.
"Negara-negara di kawasan, terutama negara-negara besar, tidak bisa berdiam diri dan hanya menonton sementara keamanan regional terancam demi kesenangan kelompok radikal yang bertekad mengubah peta regional dan membentuk sistem regional agar sesuai dengan impian terliar mereka," kata analis politik Saudi, Omar Saif.
Omar Saif meyakini aliansi Pakistan, Mesir, Turki, dan Arab Saudi memiliki bobot strategis yang unik, mengingat kemampuan yang berbeda-beda dari tiap negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aliansi yang sama dapat mengerem ambisi regional Israel," ucap Saif.
Menteri luar negeri empat negara itu menggelar pertemuan terbaru pada 17 April di sela-sela Forum Diplomasi Antalya di Turki.
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan negaranya bekerja sama dengan tiga mitra lainnya dalam menciptakan pengaturan keamanan regional pascaperang. Keempat negara bagian tersebut telah memainkan peran penting dalam membuka jalan bagi gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Harmonisasi 'kuartet Islam' yang tenang akan menghasilkan blok kekuatan yang signifikan. Populasi gabungan keempat negara itu memiliki 500 juta orang dan PDB sebesar US$3,87 triliun atau setara dengan Rp66,67 juta triliun, selain kekuatan militer dan aset geostrategis utama.
"Aliansi seperti itu akan menciptakan keseimbangan kekuatan yang sangat dibutuhkan kawasan ini," ujar Mansi.
"Dengan menggabungkan kekuatan, keempat negara tersebut akan mengirimkan pesan bahwa mereka tidak akan membiarkan Israel meniru tindakan Iran di negara lain di kawasan ini."
Tantangan apabila keempat negara itu membentuk aliansi keamanan adalah terkait masalah komitmen. Turki dan Mesir yang pernah berselisih kini mulai berdamai, ada juga ketegangan Turki dengan Arab Saudi soal pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi yang mulai mencair.
Keempat negara tersebut juga memiliki komitmen militer bilateral masing-masing, terutama Arab Saudi dan Mesir yang bermitra strategis dengan AS.
Dengan begitu, apakah AS akan mengizinkan keempat negara tersebut memulai aliansi formal guna menentang Israel?
Di mata analis politik Turki, Firas Ridvan Oglu, koalisi potensial ini bisa menciptakan keseimbangan kekuatan penting yang akhirnya melayani kepentingan AS.
"Bagaimanapun, Washington ingin menghindari meletusnya perang regional lainnya," kata Ridvan Oglu kepada TNA.
(sry/bac) Add
as a preferred source on Google