Nuklir Iran Disebut Tak Semua Hancur Dibom AS, Beda dengan Klaim Trump

CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 11:15 WIB
Fasilitas pengayaan uranium Iran di Isfahan tak sepenuhnya hancur dibom AS dan Israel. (AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kemampuan nuklir Iran dilaporkan tidak semua hancur dibom militer Amerika Serikat dan Israel.

Laporan itu berbeda dengan klaim Presiden AS Donald Trump dan Pentagon yang menyatakan semua kemampuan nuklir Iran sudah hancur total dibombardir Washington dan Israel.

CNN melaporkan berdasarkan citra satelit, sejumlah fasilitas utama nuklir Iran masih bisa bertahan dari gempuran AS dan Israel.

Laporan tersebut menyatakan bahwa dalam serangan terbaru oleh AS dan Israel, beberapa bagian terpenting dari proses ini untuk penyimpanan uranium yang diperkaya, mungkin tidak tersentuh sama sekali meskipun sebagian besar proses produksi telah "rusak parah."

Salah satunya adalah lokasi bahan baku tambang uranium di Saghand, berdasarkan citra satelit tidak menunjukkan bukti kerusakan sejak serangan terakhir, dengan alat penggali masih beroperasi di lokasi tersebut. Tambang itu dilaporkan mengalami kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan CNN, tempat-tempat seperti Fasilitas Konversi Uranium Isfahan, tempat bahan tersebut dimurnikan dan diubah menjadi uranium heksafluorida, jadi "masalah terbesar" bagi AS dan Israel.

Disebutkan bahwa setelah serangan AS dan Israel, Iran menutup beberapa pintu masuk ke terowongan bawah tanah di dekat fasilitas tersebut. Citra satelit kembali menunjukkan bahwa "masih ada sesuatu yang berharga di bawah sana."

Sebelumnya, sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan program nuklir Iran secara umum tak berubah bahkan setelah perang AS-Israel selama dua bulan ini. Sumber itu mengatakan serangan AS kali ini lebih fokus ke kemampuan militer konvensional, kepemimpinan Iran, dan basis industri militernya.

Perkiraan yang tidak berubah itu mungkin juga karena target nuklir utama yang memang sulit dihancurkan.

Dua sumber juga mengatakan, menurut penilaian badan intelijen AS, sebelum perang 12 hari kemungkinan Iran bisa memproduksi uranium tingkat bom yang cukup untuk membuat senjata dan membangun bom dalam waktu sekitar tiga hingga enam bulan.

Kantor Direktur Intelijen Nasional tak segera memberi tanggapan saat dimintai komentar soal hal tersebut. Sementara itu, juru bicara Gedung Putih mengatakan perang AS-Israel berdampak ke pertahanan Iran.

"Meskipun Operasi Midnight Hammer menghancurkan fasilitas nuklir Iran, Operasi Epic Fury melanjutkan keberhasilan ini dengan memusnahkan pertahanan Iran yang pernah mereka manfaatkan sebagai perisai," kata dia, dikutip dari Straits Times, Selasa (5/5).

Presiden AS Donald Trump, lanjut dia, sudah lama menegaskan bahwa Iran tak akan mempunyai senjata nuklir. "Dan dia tak main-main," imbuh jubir itu.

Iran sendiri memiliki kebijakan anti-bom nuklir saat masih di bawah kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ia sebelumnya mengeluarkan fatwa haram terhadap penggunaan senjata nuklir jenis apapun karena merupakan ancaman besar bagi umat manusia.

Namun setelah Ali Khamenei meninggal dunia akibat serangan udara AS dan Israel, tak jelas apakah fatwa haram itu akan dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya yang merupakan putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei.

(bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK